Sabtu, 11 Juni 2016

PROVINSI ACEH

Provinsi Aceh
Peta Provinsi Aceh

Sejarah Provinsi Aceh

Daerah Aceh yang terletak di bagian paling Barat gugusan kepulauan Nusantara, menduduki posisi strategis sebagai pintu gerbang lalu lintas perniagaan dan kebudayaan yang menghubungkan Timur dan Barat sejak berabad-abad lampau. Aceh sering disebut-sebut sebagai tempat persinggahan para pedagang Cina, Eropa, India dan Arab, sehingga menjadikan daerah Aceh pertama masuknya budaya dan agama di Nusantara. Pada abad ke-7 para pedagang India memperkenalkan agama Hindu dan Budha. Namun peran Aceh menonjol sejalan dengan masuk dan berkembangnya agama islam di daerah ini, yang diperkenalkan oleh pedagang Gujarat dari jajaran Arab menjelang abad ke-9.

Menurut catatan sejarah, Aceh adalah tempat pertama masuknya agama Islam di Indonesia dan sebagai tempat timbulnya kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu Peureulak dan Pasai. Kerajaan yang dibangun oleh Sultan Ali Mughayatsyah dengan ibukotanya di Bandar Aceh Darussalam (Banda Aceh sekarang) lambat laun bertambah luas wilayahnya yang meliputi sebagaian besar pantai Barat dan Timur Sumatra hingga ke Semenanjung Malaka. Kehadiran daerah ini semakin bertambah kokoh dengan terbentuknya Kesultanan Aceh yang mempersatukan seluruh kerajaan-kerajaan kecil yang terdapat di daerah itu. Dengan demikian

Kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaannya pada permulaan abad ke-17, pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu pengaruh agama dan kebudayaan Islam begitu besar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh, sehingga daerah ini mendapat julukan “ Seuramo Mekkah” (Serambi Mekkah). Keadaan ini tidak berlangsung lama, karena sepeninggal Sultan Iskandar Muda para penggantinya tidak mampu mempertahankan kebesaran kerajaan tersebut. Sehingga kedudukan daerah ini sebagai salah satu kerajaan besar di Asia Tenggara melemah. Hal ini menyebabkan wibawa kerajaan semakin merosot dan mulai dimasuki pengaruh dari luar.

Kesultanan Aceh menjadi incaran bangsa Barat yang ditandai dengan penandatanganan Traktat London dan Traktat Sumatera antara Inggris dan Belanda mengenai pengaturan kepentingan mereka di Sumatera. Sikap bangsa Barat untuk menguasai wilayah Aceh menjadi kenyataan pada tanggal 26 Maret 1873, ketika Belanda menyatakan perang kepada Sultan Aceh. Tantangan yang disebut ‘Perang Sabi’ ini berlangsung selama 30 tahun dengan menelan jiwa yang cukup besar tersebut memaksa Sultan Aceh terakhir, Twk. Muhd. Daud untuk mengakui kedaulatan Belanda di tanah Aceh. Dengan pengakuan kedaulatan tersebut, daerah Aceh secara resmi dimasukkan secara administratif ke dalam Hindia Timur Belanda (Nederlansch Oost-Indie) dalam bentuk propinsi yang sejak tahun 1937 berubah menjadi karesidenan hingga kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia berakhir. Pemberontakan melawan penjajahan Belanda masih saja berlangsung sampai ke pelosok- pelosok Aceh.

Kemudian peperangan beralih melawan Jepang yang datang pada tahun 1942. Peperangan ini berakhir dengan menyerahnya Jepang kepada Sekutu pada tahun 1945. Dalam jaman perang kemerdekaan, sumbangan dan keikutsertaan rakyat Aceh dalam perjuangan sangatlah besar, sehingga Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno memberikan julukan sebagai “Daerah Modal” pada daerah Aceh. Sejak bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat, Aceh merupakan salah satu daerah atau bagian dari negara Republik Indonesia sebagai sebuah karesidenan dari Propinsi Sumatera. Bersamaan dengan pembentukan keresidenan Aceh, berdasarkan Surat Ketetapan Gubernur Sumatera Utara Nomor 1/X tanggal 3 Oktober 1945 diangkat Teuku Nyak Arief sebagai Residen. Kedudukan daerah Aceh sebagai bagian dari wilayah Negara Republik Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan status.Pada masa revolusi kemerdekaan, Keresidenan Aceh pada awal tahun 1947 berada di bawah daerah administratif Sumatera Utara. Sehubungan dengan adanya agresi militer Belanda terhadap Republik Indonesia, Keresidenan Aceh, Langkat dan Tanah Karo ditetapkan menjadi Daerah militer yang berkedudukan di Kutaradja (Banda Aceh sekarang) dengan Gubernur Militer Teungku Muhammad Daud Beureueh.

Walaupun pada saat itu telah dibentuk Daerah Militer namun keresidenan masih tetap dipertahankan. Selanjutnya pada tanggal 5 April 1948 ditetapkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1948 yang membagi Sumatera menjadi 3 Propinsi Otonom, yaitu : Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. Propinsi Sumatera Utara meliputi keresidenan Aceh, Sumatera Timur dan Tapanuli Selatan, dengan pimpinan Gubernur Mr. S.M. Amin. Dalam menghadapi agresi militer kedua yang dilancarkan Belanda untuk menguasai Negara Republik Indonesia, Pemerintah bermaksud untuk memperkuat pertahanan dan keamanan dengan mengeluarkan Ketetapan Pemerintah Darurat Republik Indonesia Nomor 21/Pem/PDRI tanggal 16 Mei 1949 yang memusatkan kekuatan Sipil dan Militer kepada Gubernur Militer.

Pada akhir tahun 1949 Keresidenan Aceh dikeluarkan dari Propinsi Sumatera Utara dan selanjutnya ditingkatkan statusnya menjadi Propinsi Aceh. Teungku Muhammad Daud Beureueh yang sebelumnya sebagai Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo diangkat menjadi Gubernur Propinsi Aceh. beberapa waktu kemudian, berdasarkan Peraturan pemerintah pengganti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1950 propinsi Aceh kembali menjadi Keresidenan sebagaimana halnya pada awal kemerdekaan. Perubahan status ini menimbulkan gejolak politik yang menyebabkan terganggunya stabilitas keamanan, ketertiban dan ketentraman masyarakat. Keinginan pemimpin dan rakyat Aceh ditanggapi oleh Pemerintah sehingga dikeluarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 1956 tentang pembentukan kembali propinsi Aceh yang meliputi seluruh wilayah bekas keresidenan Aceh.

Dengan dikeluarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957, status Propinsi Aceh menjadi Daerah Swatantra Tingkat I dan pada tanggal 27 Januari 1957 A. Hasjmy dilantik sebagai Gubernur Propinsi Aceh. Namun gejolak politik di Aceh belum seluruhnya berakhir. Untuk menjaga stabilitas Nasional demi persatuan dan kesatuan bangsa, melalui misi Perdana Menteri Hardi yang dikenal dengan nama MISSI HARDI tahun 1959 dilakukan pembicaraan yang berhubungan dengan gejolak politik, pemerintahan dan pembangunan daerah Aceh. Hasil misi tersebut ditindak lanjuti dengan keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia Nomor 1/MISSI/1959. Maka sejak tanggal 26 Mei 1959 Daerah Swatantra Tingkat I atau Propinsi Aceh diberi status “Daerah Istimewa” dengan sebutan lengkap Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Dengan predikat tersebut, Aceh memiliki hak-hak otonomi yang luas dalam bidang agama, adat dan pendidikan. status ini dikukuhkan dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965.

Berbagai kebijakan dalam penyelenggaraan pemerintah pada masa lalu yang menitik beratkan pada sistem yang terpusat dipandang sebagai sumber bagi munculnya ketidakadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kondisi yang demikian ini memunculkan pergolakan. Hal ini ditanggapi oleh pemerintah pusat dengan pemberian Otonomi Khusus dengan disahkannya Undang-Undang no. 18 tahun 2002 dan Propinsi Daerah Istimewa Aceh berubah menjadi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kemudian berdasarkan Peraturan Gubernur Aceh Nomor 46 Tahun 2009 tentang Penggunaan Sebutan Nama Aceh dan Gelar Pejabat Pemerintahan alam Tata Naskah Dinas di Lingkungan Pemerintah Aceh tertanggal 7 April 2009, ditegaskan bahwa sebutan Daerah Otonom, Pemerintahan Daerah, Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Nomenklatur dan Papan Nama Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA), Titelatur Penandatangan, Stempel Jabatan dan Stempel Instansi dalam Tata Naskah Dinas di lingkungan Pemerintah Aceh, diubah dan diseragamkan dari sebutan/nomenklatur "Nanggroe Aceh Darussalam" ("NAD") menjadi sebutan/nomenklatur " Aceh ". Ini dilakukan sambil menunggu ketentuan dalam Pasal 251 UU Pemerintahan Aceh yang menyatakan bahwa nama Aceh sebagai provinsi dalam sistem NKRI, akan ditentukan oleh DPRA hasil Pemilu 2009

Lambang Provinsi Aceh

Provinsi Aceh
Gambar Lambang Provinsi Aceh

Dan berikut arti logo atau lambang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam:
Kupiah (Peci) Aceh berbentuk segi 5 (lima) adalah melambangkan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang bermakna falsafah hidup rakyat dan Pemerintah daerah yang disebut PANCACITA yang terdiri dari lima unsur yaitu :
Dacing:  melambangkan Keadilan.
Rencong: melambangkan Kepahlawanan.
Padi, Kapas, dan Cerobong Pabrik: melambangkan kemakmuran.
Kubah Masjid, Kitab dan Kalam: melambangkan Keagamaan dan Ilmu Pengetahuan.
Warna Putih: melambangkan Kemurnian
Warna Kuning: melambangkan Kejayaan.
Warna Hijau: melambangkan Kesejahteraan dan Kemakmuran.

Geografis Aceh

Provinsi Aceh terletak antara 01o 58' 37,2" - 06o 04' 33,6" Lintang Utara dan 94o 57' 57,6" - 98o 17' 13,2" Bujur Timur dengan ketinggian rata-rata 125 meter di atas permukaan laut. Pada tahun 2012 Provinsi Aceh dibagi menjadi 18 Kabupaten dan 5 kota, terdiri dari 289 kecamatan, 778 mukim dan 6.493 gampong atau desa.

Batas-batas wilayah Provinsi Aceh, sebelah Utara dan Timur berbatasan dengan Selat Malaka, sebelah Selatan dengan Provinsi Sumatera Utara dan sebelah Barat dengan Samudera Indonesia. Satu-satunya hubungan darat hanyalah dengan Provinsi Sumatera Utara, sehingga memiliki ketergantungan yang cukup tinggi dengan Provinsi Sumatera Utara.

Luas Provinsi Aceh 5.677.081 ha, dengan hutan sebagai lahan terluas yang mencapai 2.290.874 ha, diikuti lahan perkebunan rakyat seluas 800.553 ha. Sedangkan lahan industri mempunyai luas terkecil yaitu 3.928 ha.

Lokasi suaka alam/objek wisata alam di Provinsi Aceh ada di sembilan lokasi, yaitu Taman Buru Linge Isaq, Cagar Alam Serbajadi, Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Wisata dan Taman Laut Pulau Weh Sabang, Cagar Alam Jantho, Hutan untuk Latihan Gajah (PLG), Taman Wisata Laut Kepulauan Banyak, dan Suaka Margasatwa Rawa Singkil.


VISI DAN MISI



VISI


ACEH YANG BERMARTABAT, SEJAHTERA, BERKEADILAN,DAN MANDIRI BERLANDASKAN UUPA SEBAGAI WUJUD MoU HELSINKI

  
Kata-kata yang tergabung di dalam kalimat membentuk visi tersebut, bermakna;Bermartabat dapat diwujudkan melalui penuntasan peraturan-peraturan hasil turunan UUPA dan peraturan perundangan lainnya, pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih, bebas dari praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, serta penegakan supremasi hukum dan HAM, mengangkat kembali budaya Aceh yang islami dan pelaksanaan nilai-nilai Dinul Islam dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.

Sejahtera adalah terwujudnya kesejahteraan masyarakat Aceh melalui pembangunan ekonomi berazaskan pada potensi unggulan lokal dan berdaya saing, pengoptimalisasi  pemanfaatan sumberdaya alam dan geopolitik Aceh, peningkatan indeks pembangunan manusia dan mengembangkan kemampuan menguasai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berkeadilan adalah terwujudnya pembangunan yang adil dan merata yang dilakukan secara partisipatif, proporsional dan berkelanjutan berdasarkan prinsip kebutuhan dan azas manfaat bagi masyarakat Aceh.

Mandiri adalah Aceh mampu memanfaatkan potensi sumber daya alam yang melimpah dan keunggulan geostrategis melalui penguatan kapasitas sumberdaya manusia, efesiensi dan efektifitas anggaran, serta penguasaan teknologi informasi, sehingga bermanfaat sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat Aceh.

Berlandaskan UUPA sebagai wujud MoU Helsinki adalah mewujudkan pelaksanaan Pemerintahan Aceh yang efektif dan efesien sebagaimana yang telah dituangkan dalam Undang-Undang tersebut guna tercapaianya masyarakat Aceh yang mandiri, makmur dan sejahtera dalam bingkai NKRI.



MISI


Dalam mewujudkan visi Aceh tersebut ditempuh melalui 5 (lima) misi pembangunan Aceh sebagai berikut:


Misi Pertama

Memperbaiki tata kelola Pemerintahan Aceh yang amanah melalui Implementasi dan penyelesaian turunan UUPA untuk menjaga perdamaian yang abadi. Ini bermaksud mewujudkanpenyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan amanah melalui implementasi peraturan-peraturan turunan UUPA. Selanjutnya, peningkatan profesionalisme dan pengelolaan sumber daya aparatur, penguatan sistem pendataan penyelenggaraan pemerintahan, peningkatan kualitas pelayanan publik melalui efesiensi struktur pemerintahan, membangun tranparansi dalam perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah. Menjadikan UUPA dan turunan peraturannya sebagai acuan pelaksanaan dan percepatan pembangunan Aceh secara menyeluruh serta mewujudkan perdamaian abadi di Provinsi Aceh;


Misi Kedua

Menerapkan nilai-nilai budaya Aceh dan Nilai-Nilai Dinul Islam di semua sektor kehidupan masyarakat adalah membangun masyarakat Aceh yang  beriman, bertakwa, berakhlak mulia, beretika dan berkarakter, dengan mengangkat kembali budaya Aceh yang bernafaskan Islami dalam upaya pengembalian harkat dan martabat masyarakat Aceh.  Mengiplementasikan budaya Aceh dan nilai-nilaiDinul Islam dalam tatanan pemerintahan dan kehidupan  bermasyarakat secara efektif dan tepat.


Misi Ketiga

Memperkuat struktur ekonomi dan kualitas sumber daya manusia adalah mengembangkan kerangka ekonomi kerakyatan melalui peningkatan potensi sektor unggulan daerah dalam upaya membangun kualitas hidup masyarakat secara optimal; menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran dalam memenuhi capaian Millenium Development Goals (MDGs), memperluas kesempatan kerja melalui pembangunan infrastruktur ekonomi sektor riil dan pemihakan kepada UKM dan koperasi. Pembangunan ekonomi yang difokuskan kepada sektor pertanian yang berbasis potensi lokal masing-masing wilayah.Meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat Aceh adalah mewujudkan kualitas pelayanan pendidikan melalui peningkatan angka partisipasi sekolah, menurunkan angka buta aksara, meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) dalam berbagai tingkat pendidikan, menurunkan disparitas partisipasi antar wilayah, gender dan sosial ekonomi serta antar satuan pendidikan. Mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas melalui meningkatnya angka harapan hidup, menurunya angka kematian bayi, menurunnya angka prevalensi gizi buruk serta efektifitas penanganan penyakit menular guna pencapaian MDGs;


Misi Keempat

Melaksanakan pembangunan Aceh yang proporsional, terintegrasi dan berkelanjutan adalah terwujudnya pembangunan daerah yang berbasis kebutuhan dan kemanfaatan melalui perencanaan yang tepat, fokus dan tuntas. Terwujudnya penanganan tata ruang terpadu dalam pelaksanaan pembangunan daerah melalui pembangunan berbasis lingkungan, pengelolaan dan pengendalian bencana, perbaikan sistem dan jaringan sarana dan prasarana transportasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang adil dan merata;


Misi Kelima

Mewujudkan peningkatan nilai tambah produksi masyarakat dan optimalisasi pemanfaatan SDA adalah terwujudnya masyarakat Aceh yang mampu memanfaatkan potensi-potensi sumber daya alam yang berdaya guna dan berhasil guna secara optimal dengan mendorong masyarakat yang lebih produktif, kreatif, dan inovatif.



Letak Geografis
Nama Daerah
Provinsi Aceh
Name of Region
Aceh Province


Status/Status
Otonomi Khusus/Special Region


Letak/Location
01o 58' 37,2" - 06o 04' 33,6" LU/NL

94o 57' 57,6" - 98o 17' 13,2" BT/EL


Luas Wilayah/Area
56 770,81 km2


Ketinggian Rata-Rata
125 M di Atas Permukaan Laut
Average altitude
125 M Above Sea Level


Batas WilayBatas-ah/Borders:

- Sebelah Utara/North
Selat Malaka/Malacca Strait
- Sebelah Selatan/South
Propinsi Sumatera Utara

Sumatera Utara Province
- SebelahTimur/East
Selat Malaka/Malacca Strait
- Sebelah Barat/West
Samudera Indonesia

Indonesian Ocean


Cakupan Wilayah
119 Pulau/Islands
Coverage area
35 Gunung/Mountains

73 Sungai Utama/Rivers


Banyaknya Kabupaten/Kota
18 Kabupaten/Regency
Number of Regency/City
5 Kota/City


Banyaknya Kecamatan/Sub-District
289


Mukim/Mukim
778


Gampong/Village
6 493




KABUPATEN DAN KOTA



Kabupaten Aceh Utara
Kabupaten Pidie
Kota Langsa
Kabupaten Aceh Tengah
Kabupaten Aceh Besar
Kabupaten Pidie Jaya
Kabupaten Aceh Barat
Kabupaten Aceh Singkil
Kabupaten Aceh Barat Daya
Kabupaten Nagan Raya
Kabupaten Bener Meriah
Kota Lhokseumae
Kabupaten Bireueun
Kabupaten Aceh Tamiang
Kabupaten Aceh Jaya
Kabupaten Aceh Selatan
Kota Banda Aceh
Kota Sabang
Kota Subussalam
Kabupaten Aceh Tenggara
Kabupaten Aceh Timur
Kabupaten Gayo Lues
Kabupaten Simeulue






PROVINSI SUMATERA UTARA

Peta pembagian daerah provinsi di Pulau Sumatra
Peta Sumatra

Sejarah Ringkas


Pada zaman pemerintahan Belanda, Sumatera Utara merupakan suatu pemerintahan yang bernama Gouvernement van Sumatra dengan wilayah meliputi seluruh pulau Sumatera, dipimpin oleh seorang Gubernur yang berkedudukan di kota Medan.

Setelah kemerdekaan, dalam sidang pertama Komite Nasional Daerah (KND), Provinsi Sumatera kemudian dibagi menjadi tiga sub provinsi yaitu: Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan. Provinsi Sumatera Utara sendiri merupakan penggabungan dari tiga daerah administratif yang disebut keresidenan yaitu: Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Timur, dan Keresidenan Tapanuli.

Dengan diterbitkannya Undang-Undang Republik Indonesia (R.I.) No. 10 Tahun 1948 pada tanggal 15 April 1948, ditetapkan bahwa Sumatera dibagi menjadi tiga provinsi yang masing-masing berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri yaitu: Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Sumatera Tengah, dan Provinsi Sumatera Selatan. Tanggal 15 April 1948 selanjutnya ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Sumatera Utara.

Pada awal tahun 1949, dilakukan kembali reorganisasi pemerintahan di Sumatera. Dengan Keputusan Pemerintah Darurat R.I. Nomor 22/Pem/PDRI pada tanggal 17 Mei 1949, jabatan Gubernur Sumatera Utara ditiadakan. Selanjutnya dengan Ketetapan Pemerintah Darurat R.I. pada tanggal 17 Desember 1949, dibentuk Provinsi Aceh dan Provinsi Tapanuli/Sumatera Timur. Kemudian, dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 5 Tahun 1950 pada tanggal 14 Agustus 1950, ketetapan tersebut dicabut dan dibentuk kembali Provinsi Sumatera Utara.

Dengan Undang-Undang R.I. No. 24 Tahun 1956 yang diundangkan pada tanggal 7 Desember 1956, dibentuk Daerah Otonom Provinsi Aceh, sehingga wilayah Provinsi Sumatera Utara sebahagian menjadi wilayah Provinsi Aceh.



Tonggak Sejarah


1854 Gouvernement van Sumatra, ibukotanya di Medan
1948 Berdiri Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Sumatera Tengah, dan Provinsi Sumatera Selatan
1949 Dibentuk Provinsi Aceh dan Provinsi Tapanuli/Sumatera Timur
1950 Provinsi Aceh dan Provinsi Tapanuli/Sumatera Timur digabungkan kembali sebagai Provinsi Sumatera Utara
1956 Berdiri Provinsi Aceh, dengan wilayahnya sebahagian dari Provinsi Sumatera Utara

Lambang Provinsi

 
Provinsi Sumatera Utara
Gambar: Lambang Provinsi Sumatera Utara


Makna Lambang

Kepalan tangan yang diacungkan ke atas dengan menggenggam rantai beserta perisainya, melambangkan kebulatan tekad perjuangan rakyat Provinsi Sumatera Utara melawan imperialisme/kolonialisme, feodalisme, dan komunisme.
Batang bersudut lima, perisai dan rantai, melambangkan kesatuan masyarakat di dalam membela dan mempertahankan Pancasila.
Pabrik, pelabuhan, pohon karet, pohon sawit, daun tembakau, ikan, daun padi dan tulisan "Sumatera Utara", melambangkan daerah yang indah, permai, masyhur dengan kekayaan alamnya yang melimpah-limpah.
Tujuh belas kuntum kapas, delapan sudut sarang laba-laba dan empat puluh lima butir padi, menggambarkan tanggal, bulan dan tahun kemerdekaan di mana ketiga-tiganya ini berikut tongkat di bawah kepalan tangan, melambangkan watak kebudayaan yang mencerminkan kebesaran bangsa, patriotisme, pencinta kedamaian dan pembela keadilan.
Bukit Barisan yang berpuncak lima, melambangkan tata kemasyarakatan yang berkepribadian luhur, bersemangat persatuan dan kegotong-royongan yang dinamis.


Himne Sumatera Utara
 Tekun berkarya rakyatnya
Membangun neg'ri subur
Anug'rah Tuhan Yang Maha Esa
Umat-Nya hidup makmur
 Sejaht'ra dan mulia
Berbudaya, beriman
Sumat'ra Utara
Mandiri berperan
 Penduduk bersatu
Walau beragam asalnya
Sumat'ra Utara
Aman sentosa



Mars Sumatera Utara
 Gunung, hutan, sungai, danau indah
Daerah kita permai
Subur tanah datar, bukit, lembah
Rakyatnya hidup damai
 Satu dalam kebhinekaan
Rakyat Sumatera Utara
Maju, bekerja dan mandiri
Masyarakat hidup sejahtera
 Bangunlah jiwa dan raganya
Rakyat berkarya tekun
Bangun budaya dan imannya
Hidup mulian dan rukun



Mars Sumatera Utara Bangkit
 Syair: H. Gatot Pujo Nugroho, S.T., M.Si.
Aransemen: Jennie R. A. Simanungkalit, S.Pd.
 I
Ini saat kita berjuang rakyat Sumatera Utara
Mari kejarlah masa depan, tunjukkan karya dan baktimu
Ayo layani masyarakat, terus nerjuang raih prestasi
Jadikan provinsi yang berdaya saing di segala bidang
 Reff:
Satukan hati dan perkataan, bulatkan tekad bersama
Untuk membangun dan mewujudkan Sumatera Utara sejahtera
Ayo tingkatkan kesatuan dan pelihara persatuan
Kita bangga jadi rakyat Sumatera Utara
 II
Lihat alam sumber dayanya, membentang luas dan ramah
Semangat dan partisipasi tanggung jawab rakyat bersama
Generasinya yang religi itu harta yang paling berharga
Provinsi Sumatera Utara siap menyongsong masa depan
 Reff:
Satukan hati dan perkataan, bulatkan tekad bersama
Untuk membangun dan mewujudkan Sumatera Utara sejahtera
Ayo tingkatkan kesatuan dan pelihara persatuan
Kita bangga jadi rakyat Sumatera Utara
 Bangkit, maju dan jayalah Sumatera Utara
Ayo Sumatera Utara bangkitlah!

Visi dan Misi Provinsi Sumatera Utara 2014-2018




Visi
       Menjadi provinsi yang berdaya saing menuju Sumatera Utara sejahtera.


Misi
Membangun sumber daya manusia yang memiliki integritas dalam berbangsa dan bernegara, religus dan berkompetensi tinggi.
Membangun dan meningkatkan kualitas infrastruktur daerah untuk menunjang kegiatan ekonomi melalui kerjasama antar daerah, swasta, regional dan internasional.
Meningkatkan kualitas standar hidup layak, kesetaraan dan keadilan serta mengurangi ketimpangan antar wilayah.
Membangun dan mengembangkan ekonomi daerah melalui pengolaan sumber daya alam lestari berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Reformasi birokrasi berkelanjutan guna mewujudkan tata kelola pemerintah yang baik dan bersih (good governance dan clean governance).


Alamat Kantor Gubernur


Kantor Gubernur:

Jalan Pangeran Diponegoro No. 30, Medan 20152
Tel. 061-4567611, 576902, 527811, 4156000
Fax. 061-456711, 520111, 4535449

 KABUPATEN/KOTA


Kabupaten/Kota di Sumatera Utara

Kabupaten Asahan
Kabupaten Batu Bara
Kabupaten Dairi
Kabupaten Deli Serdang
Kabupaten Humbang Hasundutan
Kabupaten Karo
Kabupaten Labuhan Batu
Kabupaten Labuhan Batu Selatan
Kabupaten Labuhan Batu Utara
Kabupaten Langkat
Kabupaten Mandailing Natal
Kabupaten Nias
Kabupaten Nias Barat
Kabupaten Nias Selatan
Kabupaten Nias Utara
Kabupaten Padang Lawas
Kabupaten Padang Lawas Utara
Kabupaten Pakpak Bharat
Kabupaten Samosir
Kabupaten Serdang Bedagai
Kabupaten Simalungun
Kabupaten Tapanuli Selatan
Kabupaten Tapanuli Tengah
Kabupaten Tapanuli Utara
Kabupaten Toba Samosir
Kota Binjai
Kota Gunung Sitoli
Kota Medan
Kota Padangsidimpuan
Kota Pematang Siantar
Kota Sibolga
Kota Tanjung Balai
Kota Tebing Tinggi



Jumat, 10 Juni 2016

Situs Dan Tempat Menarik Di Sumatera Selatan

Sungai Musi

Sungai Musi yang terletak di provinsi Sumatera Selatan. Sungai ini memiliki panjang 750 kilometer dan kedalaman sekitar 6 meter. Sungai Musi selalu identik dengan Jembatan Ampera. Jembatan ini dibangun pada tahun 1962 dan diresmikan oleh Letjen Ahmad Yani pada tahun 1965.
 
Situs dan tempat menarik di Sumatera Selatan
Sungai Musi

Museum Balaputra Dewa

Museum ini dibangun pada tahun 1977 dengan arsitektur tradisional Palembang di atas area seluas 23 565 meter persegi dan diresmikan pada tanggal 5 November 1984. Awalnya museum bernama Negara Provinsi Sumatera Selatan, maka berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 1223/1990 tanggal 4 April 1990 museum bernama Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan Bala Putra Dewa. Nama Bala Putra Dewa berasal dari nama seorang raja yang memerintah Sriwijaya abad VIII-IX yang mencapai kerajaan Maritime. Di museum ini terdapat koleksi yang menggambarkan nuansa alami berbagai budaya dan Sumatera Selatan. Museum yang terdiri dari berbagai objek histografi felologi etnografi, keramik, teknologi modern, seni rupa, flora dan fauna, dan geologi. Selain itu ada rumah Limas dan rumah asli Ulu, kita dapat melihat dengan menggunakan angkutan umum rute km 12.

Situs dan tempat menarik di Sumatera Selatan
Museum Balaputra Dewa

 Mesjid Lawang Kidul

Masjid Lawang Kidul merupakan salah satu masjid tua di Palembang, masjid ini terletak di tepi Sungai Musi di semacam tanjung dibentuk oleh perjumpaan dengan Lawangkidul muara Sungai, di Desa Lawangkidul, Kecamatan II East Ilir. Rumah ibadah dibangun dan diberikan karismatik ulama Palembang, Ki. Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs. H. Mahmud alias K. Anang di 1310 H (1890 M). Ulama itu lebih dikenal sebagai Kiai Merogan. Sebut saja mengacu pada tempat tinggal dan kegiatan yang banyak di muara Ogan Sungai (anak sungai Musi) di Seberang Ulu.

Situs dan tempat menarik di Sumatera Selatan
Mesjid Lawang Kidul

Mesjid Raya Palembang

Masjid Agung Palembang yang terletak di pusat kota juga merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Palembang. Masjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Wikramo Jaya mulai tahun 1738 sampai 1748. Pertama kali ukuran bangunan masjid ini awalnya dibangun seluas 1.080 meter persegi dengan kapasitas 1.200 jamaah. Ekspansi pertama dilakukan dengan wakaf Sayid Umar bin Muhammad Assegaf Altoha dan Sayid Ahmad bin Syech Sahab dilakukan pada tahun 1897 di bawah kepemimpinan Pangeran Nataagama Karta Mangala Raden Kamaluddin Ibn Mustafa. Perluasan kedua pada tahun 1930. Dilaksanakan lagi pada tahun 1952 oleh perluasan Masjid Yayasan di 1966-1969 untuk membangun tambahan lantai dua masjid yang luas sampai sekarang 5520 meter persegi dengan kapasitas 7.750.

Situs dan tempat menarik di Sumatera Selatan
Mesjid Raya Palembang

 Candi Bumi Ayu

Candi ini merupakan satu-satunya candi yang kompleks di Sumatera Selatan, sampai sekarang tidak kurang dari 9 buah candi telah ditemukan, dan 4 dari mereka telah dipulihkan, Candi 1, Candi 2, 3 Temple dan Candi 8. upaya konservasi ini telah dimulai pada tahun 1990 sampai sekarang, didukung oleh dana APBN. Namun demikian, peran pemerintah cukup besar Muara Enim Kabupaten, antara lain Konstruksi, Pengadaan Tanah dan Field Museum Pembangunan gedung. percandian Brits mencakup lahan seluas 75,56 hektar, dengan batas terluar dari 7 (tujuh) parit yang paling sungai sudah mengalami pendangkalan. Objek Wisata Bumi Ayu Candi terletak di Desa Tanah Abang Kecamatan Brits jarak antara Muara Enim Kota sekitar 85 Km ditempuh dengan kendaraan darat. Bumi Ayu Temple pada saat ini masih dalam proses penilaian dan restorasi, sehingga tidak banyak informasi yang diketahui, sedangkan informasi tertulis dari Candi tersebut masih dalam proses dipahami oleh Archeological Provinsi Tim Assessment Sumatera Selatan.

Situs dan tempat menarik di Sumatera Selatan
Candi bumi Ayu

 Benteng Kuto Besak


Bangunan ini dibangun selama 17 tahun mulai tahun 1780 dan secara resmi selesai pada hari Senin, 21 Februari 1797. Kuto Besak adalah membangun istana di abad kedelapan belas menjadi pusat Kesultanan Palembang. Ide mendirikan Kuto Besar diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin yang memerintah di 1724-1758 dan pelaksanaan konstruksi diselesaikan oleh penggantinya, Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah di 1776-1803. Sultan Mahmud Bahauddin adalah sosok Palembang Darussalam Kesultanan realistis dan praktis dalam perdagangan internasional serta agamawan yang membuat Palembang sebagai pusat sastra agama di Nusantara. Menandai perannya sebagai sultan ia pindah dari istana ke Kuto Besak Kuto Lamo. panggilan Belanda Kuto Besak sebagai Nieuwe istana alias istana baru.
Situs dan tempat menarik di Sumatera Selatan
Benteng Kuto Besak


Situs Dan Tempat Menarik Di Bengkulu

Pemandangan Parr Monument

Pemandangan Parr Monument yang juga disebut monumen Spherical terletak di depan Pasar Baru Koto bahwa berurusan dengan lanskap Malborough yang juga terletak di pusat kota. Sementara Monumen Hamilton terletak di Simpang tiga Sukarno Hatta jalan Anggut atas. Monumen kedua dibangun untuk memperingati Inggris Parr dan Hamilton Resimen yang meninggal di Bengkulu.

Situs menarik di Bengkulu
Parr Monumen

Objek Fort Marlborough

Objek Fort Marlborough terletak di Pusat Seni Budaya Kota Bengkulu, dapat ditempuh dengan berbagai jenis kendaraan. Benteng-benteng Inggris yang didirikan oleh Perusahaan India Timur di tahun di bawah kepemimpinan Gubernur Joseph Callet di 713-1719 selama berkuasa di Bengkulu. benteng ini adalah benteng terkuat di hari-hari, setelah benteng George di Madras India. Benteng ini berusia 275 tahun. Obyek wisata ini mudah dicapai, karena terletak di jantung kota, dekat dengan Pasar Baru Koto I dan berdampingan dengan Tapak Padri. Benteng ini banyak dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri. Di dalam benteng kita bisa melihat ruang dan kamar. Kamar di mana tahanan, tempat penyimpanan senjata, kamar di mana perlindungan dari serangan musuh pada waktu itu. Dalam era kolonial, Soekarno ditahan di benteng.

Situs menarik di Bengkulu
Benteng Fort Marlborough

Tempat menarik di bengkulu
Objek Fort Marlborough

Upacara Tabot

Di Bengkulu, upacara Tabot adalah acara berkabung dari Syaid Agung Husien bin Ali bin Abi Thalib, salah satu cucu dari Nabi Muhammad SAW. Acara ini membawa oleh tentara Inggris dan berasal dari suku Shipoy di India. Tabot adalah ritual zikir atas kematian Hasan dan Husein, cucu Nabi Muhammad yang besar, di Karbalah. ritual sakral ini dilakukan setiap tahun selama sepuluh hari pada pertama yang kesepuluh Muharam. Untuk penduduk setempat, ritual ini harus diadakan untuk menghindari Konon Bagi society setempat, ritual budaya Harus dilaksanakan agar mereka terhindar different kesulitan dan wabah penyakit.
 
Situs menarik di Bengkulu
Upacara Tabot

Musik Dol

Provinsi Bengkulu memiliki musik tradisional dengan Dol dan Tesa sebagai instrumen utamanya. Dol terbuat dari log yang berlubang di tengah dan kemudian ditutup dengan kulit sapi. Ini diameter 70-125 cm dan klub adalah lebar 5 cm dan panjang 30 cm. Tessa terbuat dari tembaga, tembaga, plat besi, aluminium atau bahkan kuali dan kemudian ditutupi kering kulit kambing. Ada 3 teknik dasar dalam bermain dol yang Suwena, tamatam, Dan Suwari. Suwena biasanya dimainkan di tempo lambat untuk suasana sedih. Tamatam adalah untuk acara ceria dengan beat yang konstan dan cepat. Suwari adalah untuk perjalanan panjang dengan satu-satu tempo.
Batik Besurek
Walaupun kebanyakan orang akan berpikir Jawa ketika kata Batik terdengar, Bengkulu, karena banyak provinsi lainnya, memiliki Batik sendiri disebut Batik Besurek. Pola unik terbuat dari telanjang Arab huruf kaligrafi. Metode asli untuk membuat pola itu dengan tangan meskipun saat ini sebagian dibuat dengan mencetak. Perubahan juga terjadi pada pola di mana sekarang ia menambahkan bunga rafflesia, bunga kibut, burung, atau bunga cengkeh antara kaligrafi Arab dalam kain.
 
situs menarik di Bengkulu
Musik Dol

Air Terjun Palak Siring

air terjun Palak Siring terletak di Bengkulu Utara. Atraksi utama adalah itu ribu tangga dan air terjun adalah irigasi peninggalan Belanda dan merupakan konservasi hutan yang dicap sebagai habitat bunga Rafflesia.
tempat menarik di Bengkulu
Air Terjun Palak Siring

Rumah Sukarno


Salah satu bangunan bersejarah yang paling berharga untuk dikunjungi adalah rumah Bung Karno di Bandara Soekarno Hatta jalan kabupaten Anggut, Bengkulu. Tahun pendirian rumah tidak dapat dipastikan diketahui. Awalnya, rumah itu dimiliki oleh seorang pedagang Cina bernama Singa Bwe Seng dan disewa oleh seorang Belanda untuk menempatkan Bung Karno selama pengasingannya di Bengkulu.
Situs menarik di bengkulu
Rumah Sukarno

Situs Dan Tempat Menarik di Riau

Candi Muara Takus

Warisan budaya masa lalu terletak sekitar 130 km dari Pekanbaru ke titik di mana Kampar Kanan Sungai dan pertemuan Kampar Kiri River. Lokasi ini merupakan sisa dari kuil Buddha masa lalu. Candi ini ditemukan pada tahun 1893 oleh seorang antropolog Belanda, candi ini diyakini telah dibangun pada abad ke-7 SM. Namun, beberapa ahli percaya candi ini dibangun pada abad ke-4 SM.

Tempat menarik di Riau
Candi Muara Takus

Pacu Jalur Tradisional

Pacu Jalur adalah perlombaan perahu dayung tradisional dari Riau. perahu dayung ini sekitar 25-40 panjang m dengan 40-60 kru. Setiap tahun, lomba diadakan pada saat yang sama dengan Hari Kemerdekaan Indonesia. Tradisi leluhur telah diselenggarakan sejak ratusan tahun yang lalu dan menjadi salah satu event terbesar di Riau menarik wisatawan dari seluruh dunia hingga saat ini.

tempat menarik di Riau
Pacu Jalur Tradisional

Ritual Bakar Tongkang

Bakar Tongkang berasal dari ritual kuno etnis Cina. Saat ini, itu menjadi ritual tahunan di kota Bagansiapiapi, Riau. Sejarah ritual yang harus dilakukan dengan asal-usul nama kota. Lama waktu yang lalu, sekelompok Cina dari Fujian, Cina berkeliaran di laut dengan perahu kayu sederhana (tongkang). Di tengah perjalanan, mereka kehilangan arah. Kemudian, mereka berdoa kepada Allah Kie Ong Ya (dewa laut) yang membantu mereka dengan mengirimkan kunang-kunang (si api-api) di malam hari mengarahkan mereka ke tanah atau tempat (bagan) di Selat Malaka. Sebagai bentuk rasa syukur, para pengembara dibakar tongkang sebagai korban kepada Tuhan.
 
Situs menarik di Riau
Ritual bakar Tongkang

Mesjid Raya Pekanbaru


Mesjid Raya dibangun di abad ke-18 sebagai bukti Siak kerajaan di Pekanbaru bawah kekuasaan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Marhum Bukit - sebagainya Sultan) dan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzan Syah (Marhum Pekan - kelima Sultan). Di daerah masjid, ada juga yang diyakini ajaib dan mampu memberikan keinginan bertanya. Masih di daerah yang sama, pengunjung juga dapat melihat makam Marhum Bukit dan Marhum Pekan yang dikenal sebagai pendiri Pekanbaru.

Situs Dan Tempat Menarik Di Sumatera Utara

Pulau Samosir

Pulau Samosir terletak di utara pulau Sumatera di Indonesia. Pulau Samosir yang berada tepat di dan dikelilingi oleh Danau Toba, merupakan bagian dari Kabupaten Samosir. Pulau Samosir adalah tujuan wisata populer karena sejarah eksotis dan pemandangan yang ditawarkannya. Resor wisata terkonsentrasi di daerah Tuktuk. Pulau ini merupakan pusat budaya Batak dan banyak artefak ini rakyat tetap di pulau. Sebagian besar akomodasi wisata terkonsentrasi di kota kecil Tuktuk, yang terletak naik feri satu jam di seberang danau dari kota.

Tiga budaya yang menarik dari pulau Samosir yang Sigale-Gale, Batak Museum, dan Pemakaman Raja di Pulau Samosir. Sigale-gale merupakan situs budaya berupa empat rumah tradisional yang terdiri dari dua jenis. Salah satu perbedaan dapat dilihat dari pintu masuk di depan rumah. Batak Museum toko nenek moyang warisan suku Batak. Sementara pemakaman raja yang di Pulau Samosir adalah makam raja Sidabutar dari keturunan pertama ke kesepuluh.


Tempat menarik di Sumatera Utara
Wisata Pulau Samosir


Museum Sumatera Utara


Presiden Soekarno meletakkan batu pertama pembangunan patung pada 28 Okober 1954. Ini patung bangunan yang sekarang menjadi Museum Sumatera Utara (Museum Negeri Sumut) yang kurang dari 5 km dari Bandara Polonia. Museum ini terletak di H.M. Bill Nomor 51 Medan dan terlihat lebih hip dan modern. museum berbasis komputer yang menyajikan isi dari aplikasi mulimedia dapat dimanfaatkan oleh pengunjung.

Museum ini terdiri dari dua lantai plus taman arkeologi adalah di dalam. luas lantai sekitar satu hektar. Tata letak museum disesuaikan dengan aliran sejarah dibagi menjadi empat periode, yaitu pra-sejarah, kerajaan Hindu dan Buddha, kedatangan Islam di Sumatera Utara, serta kolonialisme dan revolusi kemerdekaan.

Situs menarik di Sumatera Utara
Museum Sumatera Utara


Kehidupan masyarakat multikultural Sumatera Utara juga digambarkan cukup lengkap, bahkan lantai kedua digunakan untuk rendering harmoni multi-budaya khusus budaya dari masa lalu, termasuk perbedaan dalam rumah adat, pekerjaan yang dominan, dan aspek lain dari kehidupan. Berbagai replika miniatur rumah tradisional di layar atau di lantai dua, termasuk deskripsi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Becak Motor

wilayah Medan hampir seluruhnya berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang, yang terletak di sebelah Barat, Selatan dan Timur. Seiring wilayah utaranya berbatasan langsung dengan Selat Malaka, yang dikenal sebagai salah satu lalu lintas terpadat di dunia. Tidak hanya di Selat Malaka saja, jalan-jalan yang menjadi penuh sesak dengan becak sepeda motor dan angkutan umum.

becak motor adalah istilah yang digunakan di Sumatera untuk becak didorong oleh mesin, juga dikenal sebagai sepeda motor becak. becak motor adalah mode yang sangat populer wisata dari pintu ke pintu (door to door service).
Hal menarik di Sumatera Utara
Beca Motor


Danau Toba

Danau Toba adalah sebuah danau dan Supervolcano terletak di Medan, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Toba sebagai kaldera raksasa masih orang biasa. peneliti asing begitu kagum dengan kaldera, konon mengatakan dalam sejarahnya, telah menghancurkan dunia, bahkan musim dingin menyelimuti hampir seluruh permukaan bumi. Itu karena danau Toba yang memiliki kemarahan di waktu kuno.
Letusan Toba terjadi pada apa yang sekarang Danau Toba sekitar 67.500 sampai 75.500 tahun yang lalu. Letusan Toba adalah yang terbaru dari serangkaian setidaknya tiga letusan kaldera pembentuk yang terjadi pada gunung berapi, dengan kaldera sebelumnya telah terbentuk sekitar 700.000 dan 840.000 tahun yang lalu. Letusan terakhir memiliki perkiraan VEI 8 (digambarkan sebagai "mega-kolosal"), sehingga kemungkinan letusan gunung berapi ledakan terbesar dalam 25 juta tahun terakhir.

Tempat menarik di Sumatera Utara
Danau Toba

Bukit Lawang


Bukit Lawang (pintu ke bukit) adalah sebuah desa kecil yang terletak di selatan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Sumatera Utara. Desa ini merupakan pintu masuk ke hutan Sumatera yang legendaris di mana Leuser Gunung (3,404 meter) di adalah. Di Bukit Lawang adalah Sumatera pusat rehabilitasi orangutan didirikan sejak tahun 1973. Orangutan adalah daya tarik utama dari Bukit Lawang, untuk langka berayun primata tampan dari pohon ke pohon dari hutan tropis yang lebat sebagai habitat alaminya.
Tempat menarik di Sumatera Utara
Bukit Lawang

Bendungan dan Air Terjun Sigura-gura

Bendungan ini terletak di distrik Asahan, Sumatera Utara. Ini adalah bendungan terbesar kedua di Indonesia. Dibangun oleh investor Jepang Mei 1978 dan selesai pada bulan Desember 1981 untuk pabrik mengembangkan dan operasi proyek Asahan, INALUM (Indonesia Asahan Aluminium). Bendungan ini juga salah satu pembangkit listrik terbesar di Sumatera Utara. Hal ini mampu menghasilkan tenaga listrik hingga 206 MW. Air pembangkit listrik berasal dari Danau Toba, danau terbesar di Asia Tenggara.


Tempat menarik di Sumatera Utara
Bendungan Sigura-gura

Situs dan Tempat menarik Di Aceh

Buat pengunjung yang tertarik dengan Aceh, berikut adalah situs dan tempat-tempat menarik yang ada di Aceh yang terdiri dari tempat pemandangan alam dan juga situs bersejarah.


Rumah Cut Nyak Dien

Rumah ini adalah lokasi asli tempat tinggal Cut Nyak Dien nasional pahlawan wanita. Bangunan yang sekarang adalah hasil dari replika karena aslinya telah dibakar oleh Belanda pada tahun 1896. Situs bersejarah ini terletak di Jalan Cut Nyak Dien, Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Di rumah ini, digunakan Cut Nyak Dien untuk tempat tinggal dan menyusun strategi perang. Di rumah ini juga menjadi tempat berlindung orang yang menyelamatkan diri ketika tsunami melanda Aceh pada tahun 2004.

Rumah Cut Nyak Dien adalah jenis rumah panggung, di bawah rumah adalah tempat untuk menyimpan kayu bakar dan gudang, dinding terbuat dari kayu berukir dan atap jerami. Pada saat tsunami, air masuk ke rumah Cut Nyak Dien sehingga banyak barang yang rusak. Orang-orang dari banyak desa-desa sekitarnya berlindung di atap rumah ini, sehingga atap perlu diganti. Pada saat perbaikan, tukang kayu itu diimpor dari Sumedang, kota di mana Cut Nyak Dien dimakamkan.

Gunongan

Gunongan merupakan salah satu daya tarik dari kota Banda Aceh. Gunongan adalah simbol kekuatan cinta  Sultan Iskandar Muda kepada ratunya yang cantik, Putri Phang (Putroe Phang) dari Pahang, Malaysia. Putroe Phang sering merasa kesepian karena tugas suami sebagai kepala pemerintahan. Dia selalu teringat kampung halamannya di Pahang. Sultan Iskandar Muda memahami kecemasan ratu. Untuk membahagiakan permaisuri, ia membangun sebuah gunung kecil (Gunongan) sebagai bukit miniatur yang mengelilingi istana Putroe Phang di Pahang. Setelah Gunongan selesai, betapa bahagianya permaisuri. Gunongan terletak di Jalan Teuku Umara berdekatan dengan lokasi pemakaman tentara Belanda (Kerkoff). Bangunan ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) di abad ke-17. Bangunan Gunongan tidak terlalu besar, heksagonal, berbentuk seperti bunga dan tingkat utama tiga lantai dengan pilar mahkota yang berdiri tegak. Di dinding ada pintu masuk berukuran rendah selalu terkunci. Dari pintu lorong adalah tangga menuju lantai tiga Gunongan.

Istana Sultan Iskandar Muda

Sultan Iskandar Muda merupakan tokoh penting dalam sejarah Aceh. Aceh telah mengalami masa jayanya, ketika Sultan memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam di 1607-1636 ia mampu menempatkan kerajaan Islam Aceh sebagai peringkat kelima di antara kekaisaran terbesar di dunia Islam pada abad ke-16. Banda Aceh yang merupakan pusat kerajaan Aceh, sebagai daerah pelabuhan komersial yang ramai dengan perdagangan internasional, khususnya Selat Malaka kepulauan di mana lalu lintas pelayaran kapal dagang asing untuk mengangkut hasil bumi Asia ke Eropa. Dia bisa bertindak adil, bahkan terhadap anak sendiri.

 Kerkoff Peutjoet Gate

Kerkoff berasal dari kata Belanda yang berarti kuburan, sedangkan Peutjoet atau asal kata Pocut (putra kesayangan) Sultan Iskandar Muda yang dihukum oleh ayahnya sendiri (Sultan Iskandar Muda) karena melakukan kesalahan fatal dan dimakamkan di tengah-tengah pemakaman ini.

Sultan memiliki dua putra / putri. Salah satu dari mereka bernama Meurah Pupok yang mencintai balap kuda. Tapi Meurah memiliki perilaku buruk, ia tertangkap berselingkuh dengan istri orang lain. Suami kemudian melaporkan langsung ke Sultan, dan setelah itu dia bunuh diri. Sultan, yang dihormati oleh rakyatnya sebagai raja yang adil dan bijaksana, begitu marah. Sultan pergi ke Meurah Pupok  dan Muerah Pupok dibunuh di depan orang. Maka timbullah kebanggaan ucapan Aceh: "Adat bak Po Temeuruhoom, Hukom bak Syiah Kuala". Adat dikelola oleh Sultan Iskandar Muda, adalah pelaksanaan hukum agama atau di bawah pertimbangan Syiah Kuala. Meurah Pupok dikuburkan di kompleks pemakaman tentara Belanda yang dikenal sebagai "Kerkhoff Peutjoet".

Di gerbang relief dinding makam di menulis nama-nama tentara Belanda yang tewas dalam pertempuran dengan orang-orang dari Aceh (setiap lega ada 30 nama); zona tempur, seperti di Sigli, Moekim, Tjot Basetoel, Lambari en Teunom, Kandang, Toeanko, Lambesoi, Koewala, Tjot Rang - Pajaoe, Lepong Ara, Oleh Reef - Dango, dan Samalanga) dan tahun kematian tentara ini (1873- 1910). Sekitar 2.200 tentara Belanda termasuk 4 jenderalnya 1883-1940 yang dimakamkan di sini. Di antara tentara Belanda ada beberapa nama prajurit Marsose dari Ambon, Manado dan Jawa. Para prajurit Marsose dari Jawa ditandai dengan identitas IF (inlander Fuselier) di belakang namanya, prajurit dari Ambon untuk menandai AMB, prajurit dari Manado dengan tanda-tanda MND dan tentara Belanda dengan tanda-tanda EF / F. Art.

Taman Sari

Taman Sari adalah taman bermain yang ramai oleh masyarakat dengan lokasi yang tidak jauh dari Masjidil Haram di Banda Aceh, Taman Sari merupakan salah satu tempat favorit di kota Banda Aceh dengan fasilitas yang tersedia antara lain: memiliki besar dan baik- terorganisir taman dengan berbagai game gratis untuk anak-anak dan hot spot gratis juga tersedia sehingga setiap orang dapat mengakses Internet dan didukung oleh struktur bangunan untuk mendukung tempat ini sebagai pusat kegiatan masyarakat.

 Replika Pesawat Seulawah RI 1 di Blang Padang

Pesawat Seulawah yang dikenal RI-1 dan RI-2 yang bukti dukungan yang diberikan masyarakat Aceh dalam cara dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, pesawat Seulawah yang menjadi maskapai cikal bakal Garuda Indonesia Airways disumbangkan melalui koleksi milik pribadi dan masyarakat pedagang Aceh bahwa Presiden Soekarno dikutip "Aceh adalah Daerah Modal bagi Republik Indonesia, dan melalui perjuangan seluruh Wilayah Republik Indonesia, Aceh bisa direbut kembali." pesawat Seulawah dibeli seharga US $ 120.000 pada kurs pada waktu atau sekitar 25 kg emas dan untuk layanan masyarakat Aceh yang kemudian menciptakan replika pesawat yang Seulawah Blang Padang bidang Baiturrahman kabupaten Banda Aceh.

Situs menarik di Aceh
Replikas Pesawat Seulawah

 Krueng Pariwisata Aceh Taman
Sungai yang membelah kota Banda Aceh merupakan salah satu sungai yang cukup bersih untuk melayani sebagai objek wisata dengan panorama konsep aliran sungai oleh santai dan nyaman untuk menghilangkan rasa lelah. Titik Waterfront City lokasi di kota wilayah Banda Aceh meliputi Gampong Keudah, Gampong Kuta Alam dan Lamgugob Gampong Daerah, dengan sarana yang tersedia pada titik rekreasi keluarga Keudah dan Kuta Alam dan air tur di Lamnyong jembatan dan juga sebagai pelengkap pengunjung yang tidak hanya menghilangkan rasa lelah dapat mengambil keuntungan dari lokasi dekat jembatan Peunayong jogging track sebagai fasilitas olahraga atau pembibitan benih tanaman di desa Bar.

Pulau Weh

Pulau Sabang atau pulau WEH, adalah sebuah pulau yang terletak di ujung barat pulau Sumatera Indonesia yang terletak pada koordinat geografis titik yang terletak di 95 ° 13'02 "-95 ° 22'36" E, 05 ° 46 ' 28 dan "-05 ° 54'-28" LU, adalah wilayah administratif paling utara dan berbatasan langsung dengan negara tetangga, yaitu Malaysia, Thailand, dan India.

Pulau ini menjadi andalan wisata Aceh banyak dikunjungi wisatawan asing dan wisatawan lokal karena Sabang adalah kota kecil yang sangat indah baik flora alami dan fauna dan pulau ini tidak begitu jauh dari kota jarak Banda Aceh hanya sekitar 14 mil atau 22,5 km dari Banda Aceh untuk menyeberang lautan, dapat dicapai dengan Ferry boat selama sekitar 2 jam dan 45 menit dengan kapal cepat MILL MARINE EXPRESS.

Tempat menarik di Aceh
Pulau Weh

 Peudeung, Senjata Tradisional dari Aceh
Peudeung adalah pedang tradisional Aceh yang digunakan sebagai senjata. Jenis Peudeung dibedakan berdasarkan pisau dan gagang.
  Berdasarkan pisau, ada:
  Pada Peudeung Teubee yang berbentuk daun tebu, baik, dan pisau kecil; dan
  Di kursi Peudeung yang aren berbentuk daun, kasar, dan pisau tebal.

Berdasarkan gagang, ada:
  Tumpang Tindih Peudeung JINGKI gagang yang seperti mulut terbuka;
  Peudeung Ulee Meu-PET yang gagang dilengkapi dengan "pet", semacam pemegang sehingga tidak mudah terlepas; dan
  Peudeung Ulee situs Guda yang gagang seperti satu-satunya gajah, dll
 
Situs menarik di Aceh
Peudeung

Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh yang dibangun oleh beberapa lembaga yang juga menjabat panitia. Diantaranya adalah Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias sebagai anggaran bangunan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) sebagai perencanaan anggaran, mempelajari isi dan pemberian pedoman untuk pengelolaan koleksi museum dan museum, Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tanah sebagai penyedia dan pengelola museum, Kotamadya Banda Aceh sebagai penyedia infrastruktur dan lingkungan museum Arsitek Indonesia (IAI) untuk memperingati tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 yang mengakibatkan sekitar 240.000. Museum ini dibangun pada tahun 2006 di atas lahan seluas sekitar 10.000 persegi yang terletak di ibukota provinsi Aceh Darussalam Nanggroes yaitu Banda Aceh kota dengan anggaran sebesar Rp 140 miliar. Menurut Eddy Purwanto sebagai inisiator dari BRR Aceh Tsunami Museum di Aceh, museum ini dibangun dengan 3 alasan:

1. Untuk mengenang korban bencana Tsunami
2. Sebagai pusat pendidikan bagi kaum muda tentang keselamatan

3. Sebagai pusat evakuasi tsunami jika datang lagi.

Tempat menarik di Aceh
Museum Tsunami Aceh

Kamis, 09 Juni 2016

Bus Lintas Sumatera Putra Rafflesia

Bus Putra Raflesia adalah salah satu penyedia angkutan darat yang menyediakan angkutan bus dengan kantor pusatnya berada di kota bengkulu, Sumatera. Perusahaan ini melayani rute Bus Antar Kota Antar Propinsi atau disingkat AKAP dengan rute dari kota Bangkulu ke berbagai kota lain di Sumatera bahkan ke Pulau Jawa. Kota tujuannya antara lain, Pekanbaru, Jakarta dan Bandung.

FASILITAS DAN PELAYANAN

Armada Bus Yang Digunakan
Mercedes Benz OH1521
Mercedes Benz OH1626

Kelas Yang Dilayani
Kelas Excecutive 2-2

HARGA TIKET DAN LOKASI AGEN

Harga Tiket Bus Putra Rafflesia
Rute
Harga Tiket
Bengkulu – Pekanbaru
220.000
Bengkulu – Jakarta
330.000
Bengkulu – Bandung
370.000
 Catatan: harga tiket sewaktu-waktu dapat berubah, silahkan cek ke loket terdekat dengan Anda untuk memastikan harga tiket terbaru

Lihat juga:
Jalur Jalan Raya Lintas Timur Sumatera
Jalur Jalan Raya Lintas Tengah Sumatera
Jalur Jalan Raya Lintas Barat Sumatera
Jalur Jalan Raya Lintas Pantai Timur Sumatera

Agen dan Perwakilan PO. Putra Rafflesia

PO. Putra Rafflesia adalah PO asal Bengkulu. informasi pemesanan tiket dapat dijumpai dibawah ini:

Jakarta
Jl. Pemuda No.5 telp. 021-4892717
Terminal Pulogadung telp. 021-98101384
Terminal Rawa Mangun telp. 94950050

Bengkulu
Jl. MT Haryono No.12 Pengantungan telp 0736-20313
Jl. S. Parman No.19 Tanah Patah telp. 0736-26162/24098

Manna
Jl. Jend. Sudirman telp. 0739-21798

Curup
Terminal simpang nangka telp. 0732-21343

Kepahiang
Jl. Santoso telp. 0732-392128

Lubuk Linggau
Jl. Yos Sudarso telp. 0733-21679

Lampung
Terminal bis Rajabasa tep. 0721-781089
Jl. Soekarno Hatta No.9 Bundaran Rjbs telp. 0721-780222

Bandung
Jl. Soekarno Hatta 239 telp. 022-6122533

Yogyakarta
telp. 0274-410082

415906

Bis Lintas Sumatra
Bus Putra Rafflesia

Bis Lintas Sumatera ANS

ANS (Aman Nyaman Sentosa) "Legenda Duo Raksasa Minangkabau"

Banyak bus bus yang berkembang di Ranah Minang, eperti PO Triarga dan PO Cemerlang yang selalu bersaing di lintasan Padang - Bukittinggi. Rute ini menjadi rute yang super padat di era 90an. Rute ini juga dilintasi oleh armada-armada Medan - Jakarta. Namun belakangan, tidak sedikit Perusahaan Otobus yang mengurangi armadanya dari lintasan Minangkabau. Berbeda dengan Bus ANS yang disingkat dari Aman Nyaman Sentosa ketika periode 1970an berbalut jubah merah turut meramaikan persaingan sehat transportasi darat Sumatera Barat. ANS juga disebut sebut merupakan nama dari pemilik awal, Pak ANAS.  Bus ANS merupakan perusahaan yang konsisten menggunakan Morodadi Prima untuk kelas bus Sumatera.
 Ditahun 1990an dalam rangka perluasan trayek selain Bukittinggi - Padang, ANS membuka trayek Padang - Jakarta, Bandung. TS berani menyebut ANS merupakan Duo Raksasa Minangkabau?  ANS menempatkan sub-sub agen di setiap kota di Sumatera Barat. Dalam satu hari ANS mampu memberangkatkan 4-5 armada dengan tujuan Jakarta-Bandung serta 2-3 armada dengan tujuan Pekanbaru.
NPM menjadi perusahaan yang meraksasa sebagai perusahaan bus Minangkabau. Pada tahun 1990an, Pool ANS di Kota Padang mempunyai fasilitas dan mewah. Penumpang sangat nyaman menanti keberangkatan disana. Hingga saat ini NPM masih menurunkan kelas Eksekutif seat 2-1 tujuan Padang - Jakarta - Bandung.

FASILITAS DAN PELAYANAN

Armada Yang Digunakan
Mercedes Benz OH1521

Kelas Yang Dilayani
Kelas Executive 2-2, dengan failitas toilet

HARGA TIKET DAN ALAMAT AGEN

Harga Tiket Bus ANS
Trayek
Harga Tiket
Bukittinggi – Bandung
435.000
Bukittinggi – Jakarta
400.000
Bukittinggi – Depok
400.000
Padang – Bandung
435.000
Padang - Jakarta
400.000
Padang – Sepok
400.000
Padang - Pekanbaru
105.000
  Catatan: harga tiket sewaktu-waktu dapat berubah, silahkan cek ke loket terdekat dengan Anda untuk memastikan harga tiket terbaru



Lihat juga:
Jalur Jalan Raya Lintas Timur Sumatera
Jalur Jalan Raya Lintas Tengah Sumatera
Jalur Jalan Raya Lintas Barat Sumatera
Jalur Jalan Raya Lintas Pantai Timur Sumatera

Daftar Agen Bus ANS

Bukittinggi
Jalan Raya Kapas Panji, Telp. 0752 22626, 23872, 23873
Jalan Jambu Air, Telp. 0752 643431
Terminal Aur Kuning, Telp. 0752 21679

Padang
Jalan Khatib Sulaiman, Telp. 0751 7051752, 7054228
Jalan Pemuda, Telp. 0751 23793, 26214
Jalan Bagindo Aziz, Telp 0751 2154

Pekanbaru
Jalan nangka, Telpn. 0761 31907

Jakarta
Terminal Rawamangun, Telp 021 4750371, 4750234
Jalan Pemuda no. 288 Rawamangun, Jakarta Timur

Bandung
Jalan Soekarno Hatta, Caringin, Telp. 022 6036960

Depok
Jalan Margonda, Agen Bus ANS sebelah Gedung BNI Depok, dekat Kantor Walikota Depok
Pasar Agung, Depok 2, sebelah kiri jalan sebelum Pasar Agung

 
Bis Lintas Sumatera
Bus ANS