Tampilkan postingan dengan label Kebakaran Hutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebakaran Hutan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Agustus 2019

Jalan Tol Palembang-Indralaya Dikepung Kebakaran Lahan

Jalan Tol Palembang-Indralaya Dikepung Kebakaran LahanIlustrasi kebakaran hutan dan lahan. (ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Palembang, CNN Indonesia -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di sekeliling Jalan Tol Palembang-Indralaya (Palindra), Senin (2/8). Tim darat Satgas Karhutla Sumsel masih berjibaku memadamkan api sejak 11.47 siang, Senin (5/8) hingga malam hari.

Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan Ansori mengatakan kebakaran mengepung di bagian kanan dan kiri jalan tol, tepatnya di KM 13.

"Hingga pukul 20.00, petugas darat masih melakukan pemadaman di lokasi. Kita bersama BPBD Ogan Ilir dan Manggala Agni terus berupaya memadamkan api," ujar Ansori, Senin (5/8) malam.


Ansori menyebut titik api yang terpantau timbul hari ini terbilang cukup besar luasannya, meskipun belum bisa memperkirakan luasan hektar yang terdampak. 


Selain di kawasan jalan tol, terpantau 5 titik api lainnya di Sumatera Selatan yakni 3 titik api di kecamatan Pemulutan dan Pemulutan Barat Kabupaten Ogan Ilit. 

Sementara 2 titik api lainnya yakni di Kecamatan Pedamaran dan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

"4 unit helikopter kita terjunkan untuk upaya pemadaman di titik api tersebut. Masing-masing kabupaten diterjunkan 2 helikopter," kata dia.

Ansori menuturkan, peningkatan data titik api dari aplikasi Lapan Fire cukup signifikan. Peningkatan titik api pun sesuai dengan kejadian kebakaran yang terjadi di lapangan. 

Lahan rawa yang kering, khususnya di Ogan Ilir, semakin mudah terbakar seiring masuk ke puncak musim kemarau.

"Untuk lahan gambut di OKI dan Musi Banyuasin saat ini masih relatif aman, walau kondisi permukaan air pada lahan gambut sudah mulai menyusut drastis," kata dia.
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan.Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)
Semakin Ganas

Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Sumatera Selatan tercatat semakin mengganas. Seluas 49 hektare lahan yang berada di 4 desa hangus dalam waktu 26 jam di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Ansori mengatakan kebakaran tersebut terjadi di Desa Muara Baru, Teluk Kecapi Kecamatan Pemulutan, Desa Arisan Jaya Kecamatan Pemulutan Barat, serta Desa Sungai Rambutan kecamatan Indralaya Utara. 

Kebakaran mulai terdeteksi sejak Jumat (2/8) pukul 16.50 hingga baru bisa dipadamkan pada Sabtu (3/8) pukul 18.00.

Ansori menjelaskan petugas di lapangan mengalami kesulitan dalam memadamkan lahan yang terbakar karena lokasinya yang sulit dijangkau. 

Lahan yang terbakar itu merupakan gambut yang ditumbuhi aren, purun, dan semak belukar sehingga mudah terbakar namun sulit dipadamkan.

Kebakaran yang terjadi pada sore hari pun membuat tim darat tidak bisa melakukan pemadaman pada malam hari. Baru 10 hektare yang berhasil dipadamkan pada Jumat. 


Pada Sabtu pagi petugas segera mengerahkan 2 unit helikopter untuk melakukan bom air dari udara terhadap area yang sulit dijangkau.

"Meski kebakaran sudah mereda, asapnya tidak langsung hilang. Masih meliputi jalintim Sumatera pada Sabtu. Hingga Minggu, tim melakukan pembasahan agar tidak ada api lagi yang menyala," ujar dia.

Sementara itu, Kapolres Ogan Ilir Ajun Komisaris Besar Ghazali Ahmad berujar, lahan yang terbakar di Desa Arisan Jaya, Kecamatan Pemulutan Barat merupakan milik warga yakni berinisial HA dan JM.

"Anggota kami sudah mendatangi TKP bersama anggota BPBD dan melakukan pemadaman bersama. Kami pun sudah mengidentifikasi lahan dan melakukan pendataan dan pengambilan keterangan saksi-saksi. Kita selidiki pemilik lahannya," kata dia. (idz/end)








65 Hotspot Muncul di Sumatera Pagi Ini, 50 Persen di Riau


Oleh : Bayu Derriansyah
Puluhan titik panas (hotspot) masih tampak muncul di sejumlah wilayah di Pulau Sumatera. Pagi ini, Senin (5/8/2019), ada 65 titik panas yang terdeteksi di Pulau Sumatera.
65 titik panas tersebut tersebar di enam provinsi. Dengan 50 persen dari jumlah tersebut berada di Provinsi Riau, yakni berjumlah 33 titik.
Sementara selebihnya berada di Provinsi Jambi 12 titik, Lampung 10 titik, Sumatera Selatan 5 titik, Bangka Belitung 4 titik dan Kepulauan Riau 1 titik panas
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Gita Dewi Siregar menyebutkan, 33 titik panas yang berada di Provinsi Riau tersebar di lima wilayah kabupaten.
“Titik panas terbanyak masih berada di wilayah Kabupaten Indragiri Hilir, yang berjudul 14 titik. Kemudian Siak 10 titik, Kepulauan Meranti 5 titik, serta di Rokan Hilir dan Indragiri Hulu masing-masing ada 2 titik,”  paparnya.
Gita mengatakan, dari 33 titik panas yang terdeteksi di Riau, 19 diantaranya berada pada tingkat kepercayaan lebih dari 70 persen. Dan diduga kuat merupakan titik kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
“Ada 19 titik berada pada level confidence lebih dari 70 persen, yaitu di Kepulauan Meranti 2 titik, Rokan Hilir 2 titik, Indragiri Hulu 1 titik, Siak 6 titik, dan Indragiri Hilir 8 titik,” pungkasnya. bayu/jss

Ada 16 Titik Api Terdeteksi Di Sumatera, Singapura Terancam Berkabut

Layanan Meteorologi Singapura pada Minggu (4/8) mengumumkan bahwa per akhir pekan kemarin, telah terdeteksi 16 titik api di Sumatera.

Akibatnya, Singapura berpotensi mengalami kondisi berkabut jika kebakaran di Sumatera tidak juga terkendali.

"Titik api yang terus-menerus dengan kabut asap terdeteksi dalam beberapa hari terakhir di Sumatra dan juga Kalimantan, yang telah mengalami kondisi cuaca kering," begitu bunyi pengumuman tersebut.

"Karena tutupan awan, total 16 titik api terdeteksi di Sumatra hari ini dan kabut asap dari titik api persisten terus diamati di provinsi Riau dan Jambi, Sumatra," sambung pengumuman yang sama dilansir RMOL.id.

Pengumuman itu menambahkan bahwa untuk beberapa hari ke depan, kondisi kering diperkirakan akan tetap terjadi di Sumatra dan angin yang ada di wilayah itu dapat terus bertiup dari tenggara atau selatan.

"Ada kemungkinan bahwa Singapura dapat mengalami kondisi yang sedikit berkabut jika ada peningkatan kegiatan titik api lebih lanjut di Sumatra dan angin berubah menjadi bertiup dari barat daya," lanjut pengumuman itu, seperti dimuat Channel News Asia. [tmc]


Potensi Karhutla Tinggi, Warga Lamsel Diimbau Waspada

Potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) saat musim kemarau rentan terjadi di wilayah Lampung Selatan (Lamsel).
Akibat puntung rokok sebuah lahan di tepi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) KM 8 Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, terbakar pada Senin (5/8). Joko, salah satu warga setempat mengungkapkan kebakaran diduga berasal dari puntung rokok pengendara yang melintas.
Joko, warga Desa Hatta Kecamatan Bakauheni berusaha memadamkan api yang membakar semak-semak diduga akibat puntung rokok yang dibuang sembarangan, Senin (5/8/2019) – Foto: Henk Widi











Lokasi kebakaran lahan yang berada di dekat pintu keluar (exit) Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) Bakauheni Utara membuat pengendara terganggu. Asap pekat akibat terbakarnya lahan berakibat pengendara motor mengalami gangguan pernapasan dan pandangan.
Upaya pemadaman disebut Joko dilakukan menggunakan bambu dan kayu. Sebab ia khawatir api akan merembet ke kebun warga yang ditanam pohon sengon dan pisang.
Selain pengendara motor, sejumlah kendaraan yang keluar dari pintu tol Bakauheni Utara terlihat harus berhati-hati. Sebab akibat terbakarnya lahan di dekat pintu masuk dan keluar tol jarak pandang terganggu.
Selain itu titik exit tol Bakauheni Utara terhubung dengan jalan lintas Sumatera dari arah Bakauheni ke Kalianda dan sebaliknya. Pemadaman disebut Joko terkendala angin kencang dan panas di sekitar lokasi.
“Awalnya api hanya kecil namun bertambah besar karena angin kencang dan udara kering mempercepat terbakarnya rumput kawatan, ilalang dan daun kering. Saya padamkan api bersama dua orang agar api tidak membesar,” ungkap Joko saat ditemui Cendana News tengah memadamkan api, Senin (5/8/2019) sore.
Joko menyebut potensi kebakaran yang tinggi membuat warga harus waspada. Sebab selain membahayakan ke permukiman warga, akibat kebakaran lahan perkebunan produktif bisa ikut terbakar.
Angin kencang dengan udara kering saat kemarau berimbas proses kebakaran bisa merembet dengan cepat. Selain membahayakan bagi warga sekitar, asap yang ditimbulkan mengakibatkan gangguan kesehatan.
Potensi kebakaran salah satunya akibat puntung rokok diakui Deni Yusuf, anggota Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Lamsel.