Jalan Tol Trans-Sumatera terus berbenah menyambut pemudik.
Kemacetan, minimnya tempat istirahat, dan ancaman tindak kejahatan tetap
perlu diwaspadai saat melintasi jalur ini.
 |
| Foto udara Jalan Tol Trans-Sumatera dan Jalan Lintas Timur Sumatera yang
langsung terhubung ke Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Lampung
Selatan, diambil pada Minggu (19/5/2019). Kawasan itu menjadi gerbang
utama masuknya kendaraan dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera. Arus
kendaraan dan pemudik pada Lebaran 2019 yang melewati daerah itu
diperkirakan naik sekitar 15 persen dibandingkan dengan tahun lalu. |
KOMPAS Pemerintah terus membenahi Jalan Tol Trans-Sumatera dari
Bakauheni, Lampung, hingga Palembang, Sumatera Selatan, agar siap
digunakan pada tujuh hari menjelang Lebaran atau H-7. Masalah seperti
kemacetan, minimnya tempat istirahat, dan tindak kejahatan tetap perlu
diwaspadai pemudik saat melintasi jalan tol sepanjang 366 kilometer
tersebut.
Kajian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian
Perhubungan, jalan tol itu diprediksi akan dilintasi 88.335 kendaraan
pada masa mudik Lebaran tahun ini. Ruas jalan yang sudah operasional
dari Bakauheni hingga Terbanggi Besar (139,9 kilometer). Adapun ruas
Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung masih fungsional, dan ruas
Kayu Agung–Palembang masih dalam pengerjaan.
Penelusuran Kompas,
Selasa hingga Sabtu (14-18/5/2019), pembenahan Jalan Tol Trans-Sumatera
terus dilakukan, mulai dari pengerasan jalan, pembangunan tempat
istirahat darurat, hingga penyediaan stasiun pengisian bahan bakar untuk
umum (SPBU).
Saat meninjau Tol Trans-Sumatera, Selasa (14/5),
Tenaga Ahli Utama Pengendalian Pembangunan Monitoring dan Evaluasi
Program Prioritas Nasional Bidang Infrastruktur Kantor Staf Presiden
Febry Calvin Tetelepta memperkirakan, minat masyarakat untuk melintasi
Jalan Tol Trans-Sumatera cukup tinggi. Selain karena tertarik mencoba
jalan tol baru, mahalnya harga tiket pesawat juga akan membuat
masyarakat memakai jalur darat.
Secara terpisah, Menteri
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan,
pemudik bisa melewati Tol Trans-Sumatera dari Bakauheni hingga
Palembang. Namun, ruas Pematang Panggang-Kayu Agung-Palembang belum
rampung dikerjakan. Ada ruas yang belum dilapisi aspal dan yang masih
berupa jalan tanah.
Untuk ruas tol yang fungsional hanya
beroperasi pada pukul 06.00-18.00. Meski belum tuntas, Jalan Tol
Trans-Sumatera dapat memangkas waktu tempuh Bandar Lampung-Palembang
hingga enam jam dibandingkan melalui jalan lintas timur Sumatera yang
memakan waktu sekitar 12 jam. Namun, sejumlah persoalan seperti potensi
kemacetan perlu diantisipasi.
Kemacetan dapat terjadi di sejumlah
pintu keluar karena adanya penyempitan jalur atau jalan rusak dari arah
jalan tol menuju jalan nasional atau arteri. Beberapa titik yang rawan
macet, seperti di Gerbang Tol Bakauheni, karena banyak kendaraan
berpotensi masuk bersamaan seusai turun dari kapal penyeberangan.
Selain
itu, kemacetan karena penyempitan jalan dapat terjadi di gerbang keluar
Simpang Pematang, Pematang Panggang, Kayu Agung, dan Jakabaring,
Palembang, Sumatera Selatan. Adapun titik rawan macet karena jalan rusak
berada di pintu keluar tol Kota Baru.
Tempat istirahat darurat
Hal lain yang berpotensi mengganggu kenyamanan mudik adalah minimnya
tempat istirahat di Tol Trans-Sumatera. Dari Bakauheni hingga Palembang,
hanya ada tempat istirahat darurat.
Ada 11 tempat istirahat
darurat yang dipersiapkan dari Bakauheni hingga Pematang Panggang.
Fasilitas darurat ini memakai kontainer sebagai ruang shalat, istirahat,
dan kantin. Disediakan juga toilet dan SPBU modular milik Pertamina.

Warga
juga membangun warung tenda yang menyediakan makanan, minuman, toilet,
dan balai istirahat. Namun, pengendara harus memarkir kendaraan di bahu
jalan sehingga dapat memicu kemacetan jika terjadi penumpukan kendaraan
di tempat istirahat darurat.
Sales Executive Ritel Rayon V
Pertamina Sumatera Bagian Selatan Ferry Fernando menjamin kebutuhan
bahan bakar untuk pemudik melalui Tol Trans-Sumatera. ”Kami menyiapkan
Pertamax dan Solar Dex, tetapi jumlah di setiap rest area berbeda, 3
kiloliter sampai 5 kiloliter,” ujarnya.
Pertamina juga menyiapkan
bahan bakar kemasan 5 liter dan 10 liter. Namun, pemudik tetap perlu
membawa bahan bakar cadangan untuk antisipasi kekurangan di perjalanan.
Pasalnya, di ruas Kayuagung-Palembang tak tersedia tempat istirahat.
Masalah
lain yang perlu diantisipasi adalah tindak kejahatan yang mungkin
terjadi di beberapa ruas jalan tol, seperti di jalur Tulang Bawang,
Lampung, hingga Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Di jalan non-tol
di kawasan ini kerap terjadi penodongan atau pemerasan dengan senjata
tajam.
Kondisi rawan ini tak lepas dari minimnya penerangan jalan
dan tiadanya pagar yang membatasi area tol dengan lahan perkebunan.
Kawasan di sekitar tol juga jarang ditemui permukiman penduduk.
Sekretaris
Asosiasi Jasa Pengiriman Logistik Sumatera Selatan Haris Jumadi
mengakui, sopir truk logistik kerap diperas di Jalintim di kawasan
Mesuji, di perbatasan Lampung-Sumatera Selatan. Kondisi ini bisa menjadi
potensi bergesernya tindak kriminal ke jalan tol.
Penembak jitu
Untuk meningkatkan keamanan, Haris mengusulkan ada patroli jalan raya,
penjagaan di pintu-pintu tol, dan pusat panggilan darurat yang aktif dan
tersosialisasikan dengan baik.
Terkait hal itu, Kepala
Kepolisian Daerah Sumatera Selatan Inspektur Jenderal Zulkarnain
Adinegara menjamin tak akan ada tindak kriminal bagi pemudik. Sebanyak
2.000 personel, termasuk penembak jitu (sniper), telah disiapkan. ”Tim
sniper disiapkan untuk mengantisipasi sejumlah bentuk kejahatan, seperti
begal dan bajing loncat,” katanya.(AIN/RAM/SKA/XTI/REN/MEL/IRE)