Rabu, 07 Agustus 2019

Sungai Sejernih Kaca di Sumatera Barat

Jernihnya air bagai berlapis kaca

Mungkin belum banyak traveler yang tahu tentang Hulu Banda. Inilah sungai di Sumatera Barat yang airnya sejernih kaca.

Gemericik air jatuh terdengar bagai suara berirama yang mengalun merdu dari hempasan air yang menuruni anak tangga demi anak tangga dari bendung irigasi sepanjang hampir 100 meter itu.

Suara desiran air itu terdengar indah tatkala ditingkahi oleh bunyi kicau murai yang berterbangan di angkasa. Cahaya matahari yang bersinar cerah pagi itu, memantul di riak-riak air yang menimbulkan efek berkelap-kelip di permukaan telaga kecil yang tenang.

Hulu Banda, begitu masyarakat sekitar menyebutnya. Banda dalam bahasa Minangkabau berarti sungai, sehingga 'Hulu Banda' dapat diartikan sebagai Hulu Sungai, atau pangkal sungai yang bermula dari balik perbukitan yang membentuk semacam waduk atau telaga kecil di daerah Taram tak seberapa jauh dari Kota Payakumbuh Sumatera Barat.

Pagi yang cerah itu, tampak serombongan pengunjung yang terlihat berjalan beriringan melintasi aliran air yang tepat mengalir melimpah diatas badan bendung yang cukup panjang itu.

Masih dalam suasana Lebaran, rombongan yang mengaku sebagai karyawan-karyawati Inspektorat Kota Payakumbuh, sebuah dinas yang berkantor sekitar 10 km jaraknya dari Hulu Banda itu, rupanya hendak mengadakan acara keakraban dalam rangka Halal bil Halal di alam terbuka.

Dalam keriaan bersama, gerombolanbapak-bapak dan ibu-ibu itu tampak menjinjing dan menenteng berbagai perlengkapan dan perbekalan untuk disantap bersama. Perlahan-lahan menapaki aliran bendung yang airnya teramat  jernih ini, sembari terkadang berhenti sejenak di tengah bendung, rombongan yang didominasi kaum ibu-ibu ini terlihat ceria ber-selfie ria sambil tak lupa mengangkat sedikit ujung pakaian mereka yang terlihat tersapu air yang hampir setinggi betis itu.

Iringan-iringan itu sempat nyaris macet tak ubahnya suasana kemacetan arus mudik lebaran tatkala gerombolan emak-emak itu tak mau beranjak dari tengah bendung untuk menuntaskan hasrat narsis mereka dengan jeprat-jepret berbagai gaya.

Kaum bapak-bapak yang sebenarnya sudah berat menanggung beban bawaan itu terpaksa bersabar antri di bagian belakang untuk melanjutkan barisan demi menunggu emak-emak selesai menyalurkan 'bakat' mereka itu.

Suasana alam Hulu Banda yang dikelilingi bukit-bukit hijau, berbalut hutan tropis bercampur batu cadas yang masih merupakan gugusan bukit barisan itu, memang seolah tak pernah ada habisnya memanja mata dan memuaskan hati para pemburu foto dan pecinta selfie. Telaga kecilnya yang tenang dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk menyediakan jasa rakit bambu untuk pengunjung yang berminat mengitari kawasan Hulu Banda.

Airnya sangat jernih dan tenang. Bagai terlapisi oleh kaca bening, perlihatkan dasar telaga yang berupa hamparan bebatuan berwarna kuning kecoklatan, sungguh menambah daya eksotis dan magis kawasan wisata alam nan masih perawan ini.

Namun sayang seribu sayang, keindahan kawasan wisata alam seperti ini semakin lama keberadaannya semakin ditinggalkan dan tergerus oleh zaman yang serba instan. Wisata alam setapak demi setapak mulai tergeser dan terlupakan tatkala obyek wisata-wisata buatan yang menyuguhkan 'keindahan artifisial' muncul bertebaran bak cendawan tumbuh di musim hujan.

Maraknya taman-taman buatan yang menjual lokasi-lokasi yang instagramable untuk berselfie ria secara instan, baik yang berkonsep ala-ala luar negeri seperti taman eropa, taman korea dan lainnya. Atau juga yang berbasis tekhnologi dan seni berkonsep studio seperti taman foto 3D, buah karya tangan-tangan kreatif era millenial, lebih digandrungi oleh para generasi zaman sekarang.

Sehingga jadilah foto-foto didepan Menara Eiffel KW, Patung Liberty gadungan atau berfoto didepan kincir angin Belanda abal-abal, oleh sebagian orang lebih jadi pilihan yang instan dibanding keindahan pesona alam seperti danau, lembah dan lautan yang nyatanya lebih memiliki keagungan dan keanggunan yang hakiki dan sejati.

Dan sebagaimana hikmah di hari lebaran yang kembali ke fitrah, maka wisata kembali ke alam pun jadi pilihan.

Selasa, 06 Agustus 2019

Pastikan Pembangunan Tol Bengkulu-Sumsel Lancar, Gubernur Datangi PT Hutama Karya


Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah saat menyambagi PT HK
ShareFacebookTwittergoogle_plushatsAPembangunan Tol Bengkulu-Curup-Linggau Sumatera Selatan memasuki tahap appraisal. Dalam rangka memastikan tahap pembangunnya sesuai rencana, Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah sambangi PT Hutama Karya selaku pengelola jalan tol trans Sumatera (JTTS), Senin (5/8/2019).
Rohidin mengatakan pertemuan dengan Direktur Hutama Karya untuk membahas tahapan progres pembangunan jalan tol trans sumatera ruas Bengkulu - Curup - Lubuk Linggau, yang pada tahap awal sepanjang 17,6 Km Pulau Baai hingga Taba Penanjung. 
"Kita ingin memastikan progres pembangunan jalan tol Bengkulu, yang sekarang sudah mencapai tahap Appraisal (penaksiran nilai) kemudian pembayaran ganti rugi pada lahan/tanah masyarakat yang dilalui jalur tol," ujar Gubernur usai pertemuan dengan Direktur Utama Hutama Karya Bintang Perbowo dan direksi di Ruang rapat PT. HK.
Kemudian, Rohidin juga ingin memastikan pembangunan jalan tol sesuai dengan jadwal semula yang telah direncanakan. Dirinya juga ingin memastikan terkait anggaran tidak terdapat kendala sehingga proses pengerjaan dapat segera dilaksanakan. 
"Memastikan anggaran tersedia sehingga tahapan groundbreaking yang direncanakan dapat segera dikerjakan. Karena tadi disampaikan pihak Hutama Karya ditargetkan akhir tahun 2019 hingga awal tahun 2020, kontruksi itu harus mulai dikerjakan," terangnya.
Sementara, Direktur PT. Hutama Karya Bintang Perbowo menjelaskan pembangunan tol ruas Bengkulu - Curup - Lubuk Linggau dilakukan dalam tiga seksi, seksi awal Bengkulu - Taba Penanjung yang sekarang sudah memasuki penetapan lokasi (penlok), kemudian seksi kedua ruas Bengkulu - Lubuk Linggau akan dilakukan tahapannya pada 2020.
"Setelah Penlok keluar, kemudian sudah dilakukan survey pematokan sepanjang ruas 17,6 Km, lanjut dilakukan appraisal oleh KJPP yang ditunjuk PUPR. Setelah keluar hasilnya dan didiskusikan kepada masyarakat, HK berkewajiban memberikan talangan (membayar terlebih dahulu). Mengenai dananya sudah diatur PPJP HK dengan PUPR dan sudah disetujui Menteri Keuangan," ujar Bintang yang sebelumnya menjabat sebagai Dirut PT. WIKA
Kemudian seksi akhir, merupakan tahap yang membutuhkan waktu yaitu ruas Kepahiang - Taba Penanjung, yang dalam perencanaan akan dibuat terowongan dengan panjang tunnel sekitar 7 Km serta menggunakan jembatan sepanjang 1,6 Km dengan tinggi tiang 92 meter. 
"Seksi akhir, pada pembangunan terowongan memakan waktu cukup lama, mulai dari tahap perencanaan san pengerjaan sehingga tahap ketiga ini akan memakan waktu pengerjaan hingga dua tahun mulai dari tahapan pengadaan tanah sampai proses kontruksi," jelasnya.
(Rls)

3 Titik Rest Area di Tol Bakauheni-Terbanggi Besar Siap Digunakan Tahun Ini

3 Titik Rest Area di Tol Bakauheni-Terbanggi Besar Siap Digunakan Tahun Ini

Pintu Tol Kalianda JTTS Bakauheni-Terbanggi Besar. PT Hutama Karya Tol memastikan pada tahun ini enam rest area di sepanjang Jalan Tol Trans Sumatera ruas Bakauheni-Terbanggi Besar sudah siap digunakan. 


Artikel ini telah tayang di tribunlampung.co.id dengan judul 3 Titik Rest Area di Tol Bakauheni-Terbanggi Besar Siap Digunakan Tahun Ini, https://lampung.tribunnews.com/2019/08/05/3-titik-rest-area-di-tol-bakauheni-terbanggi-besar-siap-digunakan-tahun-ini?page=3.
Penulis: Dedi Sutomo
Editor: Daniel Tri Hardanto


PT Hutama Karya Tol cabang Bakauheni-Terbanggi Besar memastikan pada tahun ini enam rest area di sepanjang Jalan Tol Trans Sumatera ruas Bakauheni-Terbanggi Besar sudah siap digunakan.
Kepala Cabang PT Hutama Karya Tol Bakauheni-Terbanggi Besar Hanung Hanindito mengatakan, rest area yang selesai pembangunannya tahun ini ada di kilometer 20, 33, dan 87.
“Akan ada tiga pasang rest area yang tahun ini sudah siap. Saat ini dalam proses penyelesaian pembangunan,” ujar Hanung kepada tribun, Senin (5/8/2019).
Hanung mengatakan, selain SPBU, nantinya di rest area tersedia sejumlah fasilitas umum, seperti kamar kecil, musala, kantin, dan area pakir.
Sementara itu, finishing pembangunan ruas tol Terbanggi Besar-Kayu Agung terus dikebut.
Rencananya, ruas tol sepanjang 185 kilometer ini diresmikan Presiden Joko Widodo pada Agustus 2019.
Kacab PT Hutama Karya Tol cabang Terbanggi Besar-Kayu Agung Yoni Satyo mengatakan, pihaknya masih menunggu informasi Kementerian PUPR terkait rencana peresmian.
“Kita masih menunggu konfirmasi dari pemerintah pusat untuk rencana peresmian tersebut. Sejauh ini belum ada informasi tentang kepastian waktunya,” ujar Yoni beberapa waktu lalu.
Menurut dia, saat ini progres pembangunan jalan tol ruas Terbanggi Besar-Kayu Agung sudah mencapai 96 persen.
Main road (badan jalan utama) sudah mencapai 98 persen.
Saat ini, terang Yoni, hanya tinggal penyempurnaan di beberapa titik ruas.
Selain itu, masih dilakukan penyelesaian untuk pintu tol Kayu Agung, marka dan rambu di sepanjang jalan tol.
Dengan beroperasinya jalan tol ruas Terbanggi Besar-Kayu Agung, waktu tempuh Bakauheni-Palembang terpangkas dari 10-12 jam menjadi 4-5 jam saja.
Di sepanjang ruas JTTS Terbanggi Besar-Kayu Agung akan ada sembilan titik rest area, baik pada sisi kanan dan kiri.
Saat ini rest area sedang dalam tahap pembangunan.
Rest area yang telah siap saat ini ada di titik Km 215 dan Km 234.
Jal tol ruas Bakauheni-Terbanggi Besar sepanjang 140 kilometer telah resmi beroperasi sejak Maret 2019 lalu.
Segera beroperasinya ruas tol Terbanggi Besar-Kayu Agung disambut baik oleh para pengguna jalan tol, khususnya sopir truk angkutan barang.
Pasalnya, kondisi jalan lintas tengah Sumatera relatif lebih jauh dan memakan waktu lama.

Sedangkan jalan lintas timur saat ini kerap mengalami kendala.
Seperti beberapa waktu lalu, jalintim sempat putus akibat jembatan penghubung yang berada di perbatasan Lampung-Sumatera Selatan di Kabupaten Mesuji jebol.
“Kita senang kalau tol Terbanggi Besar-Kayu Agung bisa segera beroperasi. Karena akan mempercepat akses sampai ke Palembang,” terang Safri, sopir truk barang.
Warga Palembang ini mengatakan, terkendalanya jalinpantim beberapa waktu lalu telah menghambat distribusi barang.
Karena truk angkutan barang harus memutar melalui lintas tengah yang membuat waktu tempuh lebih lama.
Terkait tambahan biaya operasional untuk tol, Safri mengatakan itu  sudah diperhitungkan oleh perusahaan. (Tribunlampung.co.id/Dedi Sutomo)


Artikel ini telah tayang di tribunlampung.co.id dengan judul 3 Titik Rest Area di Tol Bakauheni-Terbanggi Besar Siap Digunakan Tahun Ini,
Penulis: Dedi Sutomo
Editor: Daniel Tri Hardanto

Jalan Tol Palembang-Indralaya Dikepung Kebakaran Lahan

Jalan Tol Palembang-Indralaya Dikepung Kebakaran LahanIlustrasi kebakaran hutan dan lahan. (ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Palembang, CNN Indonesia -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di sekeliling Jalan Tol Palembang-Indralaya (Palindra), Senin (2/8). Tim darat Satgas Karhutla Sumsel masih berjibaku memadamkan api sejak 11.47 siang, Senin (5/8) hingga malam hari.

Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan Ansori mengatakan kebakaran mengepung di bagian kanan dan kiri jalan tol, tepatnya di KM 13.

"Hingga pukul 20.00, petugas darat masih melakukan pemadaman di lokasi. Kita bersama BPBD Ogan Ilir dan Manggala Agni terus berupaya memadamkan api," ujar Ansori, Senin (5/8) malam.


Ansori menyebut titik api yang terpantau timbul hari ini terbilang cukup besar luasannya, meskipun belum bisa memperkirakan luasan hektar yang terdampak. 


Selain di kawasan jalan tol, terpantau 5 titik api lainnya di Sumatera Selatan yakni 3 titik api di kecamatan Pemulutan dan Pemulutan Barat Kabupaten Ogan Ilit. 

Sementara 2 titik api lainnya yakni di Kecamatan Pedamaran dan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

"4 unit helikopter kita terjunkan untuk upaya pemadaman di titik api tersebut. Masing-masing kabupaten diterjunkan 2 helikopter," kata dia.

Ansori menuturkan, peningkatan data titik api dari aplikasi Lapan Fire cukup signifikan. Peningkatan titik api pun sesuai dengan kejadian kebakaran yang terjadi di lapangan. 

Lahan rawa yang kering, khususnya di Ogan Ilir, semakin mudah terbakar seiring masuk ke puncak musim kemarau.

"Untuk lahan gambut di OKI dan Musi Banyuasin saat ini masih relatif aman, walau kondisi permukaan air pada lahan gambut sudah mulai menyusut drastis," kata dia.
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan.Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)
Semakin Ganas

Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Sumatera Selatan tercatat semakin mengganas. Seluas 49 hektare lahan yang berada di 4 desa hangus dalam waktu 26 jam di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Ansori mengatakan kebakaran tersebut terjadi di Desa Muara Baru, Teluk Kecapi Kecamatan Pemulutan, Desa Arisan Jaya Kecamatan Pemulutan Barat, serta Desa Sungai Rambutan kecamatan Indralaya Utara. 

Kebakaran mulai terdeteksi sejak Jumat (2/8) pukul 16.50 hingga baru bisa dipadamkan pada Sabtu (3/8) pukul 18.00.

Ansori menjelaskan petugas di lapangan mengalami kesulitan dalam memadamkan lahan yang terbakar karena lokasinya yang sulit dijangkau. 

Lahan yang terbakar itu merupakan gambut yang ditumbuhi aren, purun, dan semak belukar sehingga mudah terbakar namun sulit dipadamkan.

Kebakaran yang terjadi pada sore hari pun membuat tim darat tidak bisa melakukan pemadaman pada malam hari. Baru 10 hektare yang berhasil dipadamkan pada Jumat. 


Pada Sabtu pagi petugas segera mengerahkan 2 unit helikopter untuk melakukan bom air dari udara terhadap area yang sulit dijangkau.

"Meski kebakaran sudah mereda, asapnya tidak langsung hilang. Masih meliputi jalintim Sumatera pada Sabtu. Hingga Minggu, tim melakukan pembasahan agar tidak ada api lagi yang menyala," ujar dia.

Sementara itu, Kapolres Ogan Ilir Ajun Komisaris Besar Ghazali Ahmad berujar, lahan yang terbakar di Desa Arisan Jaya, Kecamatan Pemulutan Barat merupakan milik warga yakni berinisial HA dan JM.

"Anggota kami sudah mendatangi TKP bersama anggota BPBD dan melakukan pemadaman bersama. Kami pun sudah mengidentifikasi lahan dan melakukan pendataan dan pengambilan keterangan saksi-saksi. Kita selidiki pemilik lahannya," kata dia. (idz/end)








65 Hotspot Muncul di Sumatera Pagi Ini, 50 Persen di Riau


Oleh : Bayu Derriansyah
Puluhan titik panas (hotspot) masih tampak muncul di sejumlah wilayah di Pulau Sumatera. Pagi ini, Senin (5/8/2019), ada 65 titik panas yang terdeteksi di Pulau Sumatera.
65 titik panas tersebut tersebar di enam provinsi. Dengan 50 persen dari jumlah tersebut berada di Provinsi Riau, yakni berjumlah 33 titik.
Sementara selebihnya berada di Provinsi Jambi 12 titik, Lampung 10 titik, Sumatera Selatan 5 titik, Bangka Belitung 4 titik dan Kepulauan Riau 1 titik panas
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Gita Dewi Siregar menyebutkan, 33 titik panas yang berada di Provinsi Riau tersebar di lima wilayah kabupaten.
“Titik panas terbanyak masih berada di wilayah Kabupaten Indragiri Hilir, yang berjudul 14 titik. Kemudian Siak 10 titik, Kepulauan Meranti 5 titik, serta di Rokan Hilir dan Indragiri Hulu masing-masing ada 2 titik,”  paparnya.
Gita mengatakan, dari 33 titik panas yang terdeteksi di Riau, 19 diantaranya berada pada tingkat kepercayaan lebih dari 70 persen. Dan diduga kuat merupakan titik kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
“Ada 19 titik berada pada level confidence lebih dari 70 persen, yaitu di Kepulauan Meranti 2 titik, Rokan Hilir 2 titik, Indragiri Hulu 1 titik, Siak 6 titik, dan Indragiri Hilir 8 titik,” pungkasnya. bayu/jss

Pakar sebut Sumatera solusi cadangan listrik Jakarta

Pakar sebut Sumatera solusi cadangan listrik Jakarta
Situasi di Halte TransJakarta Harmoni saat pemadaman listrik di Jakarta, Minggu (4/8/2019) (ANTARA/Shofi Ayudiana)
Jakarta (ANTARA) - Pakar ketenagalistrikan Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Pekik Argo Dahono mengatakan salah satu solusi mengatasi cadangan listrik Jakarta serta wilayah Jawa bagian Barat adalah mensuplai cadangan listrik dari Pulau Sumatera melalui jaringan kabel bawah laut.

“Yang paling bagus seharusnya listrik kita di Jawa bagian Barat segera disambung ke Sumatera. Jadi kalau listrik Timur putus bisa disumbang dari Sumatera,” kata Prof Pekik saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Pekik mengatakan solusi untuk membangun transmisi listrik dari Sumatera ke Jawa melalui jaringan kabel bawah laut pernah diwacanakan sebelumnya, namun tidak lama isu tersebut tenggelam karena izinnya dicabut.

Selain itu, Pekik juga menjelaskan Jakarta dan wilayah Jawa bagian Barat memang masih bergantung pada pembangkit listrik yang ada di bagian Timur sehingga ketika di wilayah timur kehilangan daya, wilayah barat mengalami trip (terputus).

Dengan demikian, ia mengungkapkan wilayah Jawa bagian Barat (DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat) seharusnya mempunyai pembangkit listrik yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan dunia industri yang banyak terdapat di wilayah ini.

Namun masalahnya, sambung Pekik, pembangkit listrik di Barat kurang karena berbagai kendala, salah satunya tanah di Barat mahal sehingga cukup sulit untuk mencari lahan untuk pembangkit baru.

Dosen Teknik Elektro ITB itu juga menyebutkan ada dua PLTA besar di wilayah Barat yakni Saguling dan Cirata yang berfungsi sebagai penstabil daya dan tegangan sekaligus untuk mengirimkan pasokan listrik dari Timur ke Barat.

Selain kedua PLTA tersebut, Suralaya dan Cirebon power juga termasuk pemasok listrik ke Jawa bagian Barat. Namun pembangkit listrik tersebut belum cukup untuk menanggung kebutuhan listrik di Barat.

Solusi lain untuk mencukupi kebutuhan listrik Jawa bagian Barat, selain menambah pasokan dari Sumatera juga adalah pembangunan infrastruktur yang sudah menjadi target PLN di 2022.

Ada beberapa pembangkit yang dibangun seperti di Bekasi, Cirebon, dan Pelabuhan Ratu. Pembangunan ini masuk dalam program 35.000 MW yang dicanangkan pemerintah.

“Itu salah satu solusinya. Cuma semuanya itu PLTU. Kelakuan PLTU itu kalau sudah nyala tidak mau dimatikan, kalau sudah mati, sulit dinyalakan,” ujarnya.

Ada 16 Titik Api Terdeteksi Di Sumatera, Singapura Terancam Berkabut

Layanan Meteorologi Singapura pada Minggu (4/8) mengumumkan bahwa per akhir pekan kemarin, telah terdeteksi 16 titik api di Sumatera.

Akibatnya, Singapura berpotensi mengalami kondisi berkabut jika kebakaran di Sumatera tidak juga terkendali.

"Titik api yang terus-menerus dengan kabut asap terdeteksi dalam beberapa hari terakhir di Sumatra dan juga Kalimantan, yang telah mengalami kondisi cuaca kering," begitu bunyi pengumuman tersebut.

"Karena tutupan awan, total 16 titik api terdeteksi di Sumatra hari ini dan kabut asap dari titik api persisten terus diamati di provinsi Riau dan Jambi, Sumatra," sambung pengumuman yang sama dilansir RMOL.id.

Pengumuman itu menambahkan bahwa untuk beberapa hari ke depan, kondisi kering diperkirakan akan tetap terjadi di Sumatra dan angin yang ada di wilayah itu dapat terus bertiup dari tenggara atau selatan.

"Ada kemungkinan bahwa Singapura dapat mengalami kondisi yang sedikit berkabut jika ada peningkatan kegiatan titik api lebih lanjut di Sumatra dan angin berubah menjadi bertiup dari barat daya," lanjut pengumuman itu, seperti dimuat Channel News Asia. [tmc]


Potensi Karhutla Tinggi, Warga Lamsel Diimbau Waspada

Potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) saat musim kemarau rentan terjadi di wilayah Lampung Selatan (Lamsel).
Akibat puntung rokok sebuah lahan di tepi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) KM 8 Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, terbakar pada Senin (5/8). Joko, salah satu warga setempat mengungkapkan kebakaran diduga berasal dari puntung rokok pengendara yang melintas.
Joko, warga Desa Hatta Kecamatan Bakauheni berusaha memadamkan api yang membakar semak-semak diduga akibat puntung rokok yang dibuang sembarangan, Senin (5/8/2019) – Foto: Henk Widi











Lokasi kebakaran lahan yang berada di dekat pintu keluar (exit) Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) Bakauheni Utara membuat pengendara terganggu. Asap pekat akibat terbakarnya lahan berakibat pengendara motor mengalami gangguan pernapasan dan pandangan.
Upaya pemadaman disebut Joko dilakukan menggunakan bambu dan kayu. Sebab ia khawatir api akan merembet ke kebun warga yang ditanam pohon sengon dan pisang.
Selain pengendara motor, sejumlah kendaraan yang keluar dari pintu tol Bakauheni Utara terlihat harus berhati-hati. Sebab akibat terbakarnya lahan di dekat pintu masuk dan keluar tol jarak pandang terganggu.
Selain itu titik exit tol Bakauheni Utara terhubung dengan jalan lintas Sumatera dari arah Bakauheni ke Kalianda dan sebaliknya. Pemadaman disebut Joko terkendala angin kencang dan panas di sekitar lokasi.
“Awalnya api hanya kecil namun bertambah besar karena angin kencang dan udara kering mempercepat terbakarnya rumput kawatan, ilalang dan daun kering. Saya padamkan api bersama dua orang agar api tidak membesar,” ungkap Joko saat ditemui Cendana News tengah memadamkan api, Senin (5/8/2019) sore.
Joko menyebut potensi kebakaran yang tinggi membuat warga harus waspada. Sebab selain membahayakan ke permukiman warga, akibat kebakaran lahan perkebunan produktif bisa ikut terbakar.
Angin kencang dengan udara kering saat kemarau berimbas proses kebakaran bisa merembet dengan cepat. Selain membahayakan bagi warga sekitar, asap yang ditimbulkan mengakibatkan gangguan kesehatan.
Potensi kebakaran salah satunya akibat puntung rokok diakui Deni Yusuf, anggota Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Lamsel.

Kamis, 23 Mei 2019

Ruas Tol Kayu Agung-Palembang Belum Tuntas

Sejumlah pekerja tengah membagun ruas jalan tol dari Kayu Agung-Palembang, Kamis (16/5/2019). Dari 33 km ruas tol ini, empat kilometer diantaranya masih berupa tanah merah. Pengerjaan ini ditargetkan rampung pada H-10 Lebaran dan dapat digunakan sebagai jalur fungsional dari Lampung menuju Palembang.


KOMPAS—Di beberapa titik, pembangunan jalan di ruas tol Kayu Agung-Palembang masih belum tuntas. Jalur tersebut masih berupa tanah merah dan kerikil. PT Waskita Karya sebagai kontraktor akan mempercepat pengerjaan untuk melapisi jalan dengan agregat tak berdebu. Jalur ini ditargetkan dapat difungsikan pada 10 hari sebelum Lebaran.
Pengerjaan  jalan ruas tol Kayu Agung-Palembang, Kamis (16/5/2019), masih terus berlangsung. Sejumlah kendaraan berat berlalu-lalang mengangkut material dan membangun jalan.
Pada Kamis (16/5/2019), dari sekitar 33 km tersebut, ada sekitar 4 kilometer jalan yang masih tanah merah dan sulit dilalui. Jalur tersebut terletak di  STA-13 sampai STA 17.
Akibatnya, kendaraan harus memilih jalan agar tidak terperosok karena tanah masih lunak. Beberapa kali, Kompas salah mengambil jalur, karena belum adanya rambu. Tidak hanya itu, jembatan yang menjadi akses keluar dari tol menuju gerbang tol Kayu Agung, juga belum selesai.
Walau demikian, sejumlah proses pengerjaan terus berlangsung. Di tengah terik matahari, pekerja membenahi jalan. Mereka melapisi tanah dengan batu kerikil dan juga pengerjaan pembangunan jembatan dan gorong-gorong.
Manager Proyek Tol Kapal Betung Aditya Wicaksono saat dihubungi, Kamis (16/5/2019) mengakui masih ada jalan yang masih terus dibangun. Jalan yang masih tanah merah akan dipadatkan dan dilapisi dengan agregat sehingga lebih mudah untuk dilalui. “Nantinya jalan juga akan dilapisi dengan aspal sebagai perekat sehingga saat dilintasi, jalan tidak akan berdebu,” katanya.
Nantinya jalan juga akan dilapisi dengan aspal sebagai perekat sehingga saat dilintasi, jalan tidak akan berdebu
Adapun untuk jembatan akses tol, Aditya menargetkan dalam waktu tiga hari ke depan, jembatan tersebut dapat terselesaikan dan dapat dilalui.
Di tahap akhir, akan dipasang sejumlah rambu yang digunakan pengendara untuk melewati jalan tersebut. Hanya saja, lanjut Aditya, tidak ada penerangan jalan. Karena itu, jalan fungsional hanya akan dibuka pada pagi hingga sore hari.
KOMPAS/RHAMA PURNA JATI
Sejumlah pekerja tengah membagun ruas jalan tol dari Kayu Agung-Palembang, Kamis (16/5/2019). Dari 33 km ruas tol ini, empat kilometer diantaranya masih berupa tanah merah. Pengerjaan ini ditargetkan rampung pada H-10 Lebaran dan dapat digunakan sebagai jalur fungsional dari Lampung menuju Palembang.
Rencananya, jalan fungsional akan dibuka satu jalur. “Sebagian besar, jalan yang akan dibuka adalah di sebelah kiri arah Lampung menuju Palembang,” katanya. Namun, di beberapa ruas, pengendara akan diarahkan ke jalur sebelahnya.
Aditnya mengatakan, pembukaan tol fungsional ini dilakukan untuk menyediakan jalur alternatif bagi masyarakat. Secara keseluruhan progres pembangunan jalur tol Kayu Agung-Palembang sekitar 75 persen dan di ditargetkan baru akan rampung pada September 2019.
Akses keluar tol rawan
Adapun untuk akses keluar tol, hanya akan diberlakukan di kawasan Kayu Agung dan Palembang tepatnya di Kawasan Jakabaring, sementara akses keluar di Jejawi tidak akan difungsikan.
Pantauan Kompas, jalur akses keluar tol di kedua jalur tersebut memiliki lebar sekitar delapan meter. Namun, saat tiba di jalan lintas sumatera, jalan menyempit menjadi enam meter.
Adapun akses jalan masuk menuju tol sebagian besar masih tanah dan berdebu. Hal serupa juga terjadi di pintu keluar kayu agung yang juga sebagian besar masih tanah dan jalan agregat.
KOMPAS/RHAMA PURNA JATI
Sejumlah pekerja tengah membagun ruas jalan tol dari Kayu Agung-Palembang, Kamis (16/5/2019). Dari 33 km ruas tol ini, empat kilometer diantaranya masih berupa tanah merah. Pengerjaan ini ditargetkan rampung pada H-10 Lebaran dan dapat digunakan sebagai jalur fungsional dari Lampung menuju Palembang.
Aditya menegaskan, pihaknya akan terus melakukan pembangunan jalan sehingga dapat dilalui dengan nyaman. “Saya menargetkan pada H-10 Lebaran, semua pengerjaan jalan fungsional bisa rampung,” kata Aditya.
Saya menargetkan pada H-10 Lebaran, semua pengerjaan jalan fungsional bisa rampung
Tenaga Ahli Utama Pengendalian Pembangunan Monitoring dan Evaluasi Program Prioritas Nasional Bidang Infrastruktur Kantor Staf Presiden Febry Calvin Tetelepta saat memantau kesiapan tol Trans Sumatera Selasa (14/5/2019),  memprediksi  minat pemudik dari Jawa ke Sumatera menggunakan tol Trans Sumatera sangat tinggi. Sebab, ini kali pertama tol di Sumatera digunakan. Terlebih pada saat yang sama harga tiket pesawat melonjak sehingga banyak yang mudik melalui darat.
Panjang tol dari Lampung ke Palembang 363 kilometer.  Tol Sumatera yang sudah diresmikan operasional dari Bakauheni Lampung Selatan – Terbanggi Besar Lampung Tengah 140,7 km. Sementara dari Terbanggi Besar ke Pematang Panggang, Kabupaten Mesuji, panjangnya 112 km dan ruas Pematang Panggang ke Kayu Agung sepanjang 77 km dianggap fungsional.
KOMPAS/RHAMA PURNA JATI
Sejumlah pekerja tengah membagun ruas jalan tol dari Kayu Agung-Palembang, Kamis (16/5/2019). Dari 33 km ruas tol ini, empat kilometer diantaranya masih berupa tanah merah. Pengerjaan ini ditargetkan rampung pada H-10 Lebaran dan dapat digunakan sebagai jalur fungsional dari Lampung menuju Palembang.
“Bakal ramai pemudik yang gunakan tol Trans Sumatera. Walaupun belum sepenuhnya rampung, namun sudah bisa digunakan,” kata Febry.
Tol Trans Sumatera belum memiliki rest area yang permanen. Namun, dari Bakauheni sampai ke Pematang Panggang disiapkan rest areadarurat. Di rest area darurat itu disediakan fasilitas ruang salat, kantin, toilet, dan pengisian bahan bakar. Selain rest area darurat yang disiapkan pemerintah, terdapat juga warung-warung makan darurat milik warga.
Siap Digunakan
Sebelumnya, Kakorlantas Polri Inspektur Jenderal Refdi Andri menjelaskan, tol fungsional diperkirakan akan dibuka pada 29 Mei 2019 atau bersamaan dengan dimulainya operasi ketupat 2019. Namun pihaknya masih akan memantau perkembangan pengerjaan di ruas tol yang akan difungsikan.
“Kalau bisa digunakan akan kita gunakan, tetapi kalau belum siap, ya tidak kita gunakan. Yang pasti pada 10 hari sebelum hari raya, semua pengerjaan harus sudah selesai,” katanya.
Refdi menerangkan, berdasarkan pemeriksaan, jalur Bakauheni- Pematang Panggang sudah bisa dilalui dengan lancar. Hanya saja, jalur dari Pematang Panggang-Kayu Agung, masih perlu pembenahan. “Penyelenggara jalan tentu akan melakukan percepatan pengerjaan agar jalur ini dapat difungsikan,” ungkapnya.
Hal yang utama adalah keberadaan rest area yang harus sesuai dengan standar minimum. Selain itu, perlu ada peningkatan jaringan sinyal karena di beberapa titik jaringan komunikasi masih sulit di dapat. “Kami akan berkoordinasi dengan pihak provider untuk menyediakan jaringan di titik tersebut,” katanya.
KOMPAS/RHAMA PURNA JATI
Sejumlah pekerja tengah membagun ruas jalan tol dari Kayu Agung-Palembang, Kamis (16/5/2019). Dari 33 km ruas tol ini, empat kilometer diantaranya masih berupa tanah merah. Pengerjaan ini ditargetkan rampung pada H-10 Lebaran dan dapat digunakan sebagai jalur fungsional dari Lampung menuju Palembang.
Refdi menerangkan, berkaca pada arus angkutan lebaran tahun sebelumnya, kemungkinan puncak arus mudik akan terjadi pada H-2 lebaran dan H+1. Untuk itu, akan ada perlakuan khusus agar tidak terjadi kemacetan terutama saat pengalihan dari jalur tol ke non tol atau sebaliknya.
Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Selatan Inspektur Jenderal Zulkarnain Adinegara mengatakan pihaknya sudah menyiapkan 2.000 personel dalam operasi ketupat. Salah satunya adalah untuk mengamankan titik rawan. “Tim sniper pun disiapkan. Hal ini untuk mengantisipasi sejumlah bentuk kejahatan seperti begal dan bajing loncat,” katanya. (AIN/IRE)



Warga Blang Bintang Siap Tempuh Jalur Hukum

Lokasi pembangunan Jalan Tol Aceh-Sumatera Utara dimulai dari Blang Bintang, Aceh Besar-Sigli. Saat ini, lokasi pembangunan sudah ditentukan, seperti terlihat pada Senin (3/9/2018). Namun, pembebasan lahan terhambat karena sejumlah warga menolak nilai ganti rugi yang ditentukan panitia pembebasan lahan.

KOMPAS — Sebagian besar warga di Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, belum mau melepaskan tanahnya untuk jalan tol dengan harga yang ditawarkan panitia pembebasan lahan. Warga akan menempuh jalur hukum dengan melayangkan gugatan ke pengadilan.
Pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum(LBH) Banda Aceh, Syahrul, pemegang kuasa warga penggugat, Senin (24/9/2018), mengatakan, jalur hukum menjadi jalan terakhir setelah beberapa kali musyawarah tidak mencapai titik temu. Ia berharap warga menang di pengadilan sehingga ada peluang menegosiasi ulang.
Pembangunan Jalan Tol Banda Aceh–Sigli dimulai dari Blang Bintang, Aceh Besar, hingga Padang Tiji, Pidie. Jalan tol itu bagian tol Sumatera, dari Banda Aceh hingga Sumatera Utara. Saat ini tahapannya masuk pada pembebasan lahan.
Syahrul mengatakan, saat ini sudah ada 40 warga yang menyerahkan surat kuasa dan dokumen pendukung untuk menyusun berkas gugatan. Sisa sekitar 40 orang lagi akan menyerahkan kuasa dalam beberapa hari ke depan.
”Batas pengajuan gugatan ke pengadilan pada 4 Oktober 2018, saat ini kami sedang menyiapkan berkas,” kata Syahrul.
Aspirasi diabaikan
Menurut Syahrul, warga harus menempuh jalur hukum karena aspirasi mereka tidak direspons panitia dan pemerintah daerah. Syahrul menyatakan, pemerintah membiarkan warga berjuang sendiri.
”Padahal, mereka adalah rakyat, pemerintah daerah seharusnya berjuang bersama rakyat,” kata Syahrul.
Warga tidak mau melepaskan lahannya karena menganggap harga yang ditawarkan panitia jauh di bawah harga jual beli yang berlaku. Sebagai contoh, pada 2010, warga menjual lahan untuk pembangunan SMK Penerbangan seharga Rp 72.000 per meter persegi.
Pada 2013 warga menjual lahan kepada Pemprov Aceh yang kemudian dihibahkan untuk TNI AU seharga Rp 130.000 per m2. Namun, panitia menilai lahan yang bersisian dengan lahan yang dibeli SMK Penerbangan dan Pemprov Aceh lebih rendah, yakni Rp 40.000-Rp 80.000
”Seharusnya pada tahun 2018 harga tanah semakin naik, bukan turun,” kata Syahrul.
Ganti rugi yang ditetapkan tim penilai bervariasi, Rp 30.000-Rp 265.000 per m2. Harga tergantung letak lahan dan tingkat produktivitas. Untuk penggarap lahan negara, kawasan hutan diberikan ganti rugi Rp 12.000 per m2.
Syahrul menambahkan, bukti jual beli lahan yang dilakukan warga akan dilampirkan sebagai bahan kajian bagi majelis hakim. Dengan harga yang ditawarkan panitia, warga tidak dapat membeli lahan dengan luas yang sama di tempat lain. Padahal, lahan itu sumber kehidupan mereka.
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
Pembangunan jalan tol di Sumatera mendukung rancangan pembangunan Jalan Tol Trans-Sumatera yang membujur mulai dari Aceh hingga Lampung sepanjang 2.771 kilometer yang dibagi menjadi 23 ruas. Menurut rencana, pembangunannya dilakukan secara bertahap hingga 2025.
Jalan Tol Trans-Sumatera di Aceh direncanakan dibangun dalam empat tahapan. Tahap pertama dari Aceh Besar sampai Pidie (Banda Aceh-Sigli) sejauh 75 km, tahap kedua dari Pidie sampai Lhokseumawe 135 km, tahap ketiga dari Lhokseumawe sampai Langsa 135 km, dan terakhir dari Langsa hingga Binjai, Sumatera Utara, 110 km.
Pejabat pembuat komitmen Jalan Tol Sigli-Banda Aceh, Alfisyah, mengatakan, di Kecamatan Blang Bintang, dari 130 bidang tanah yang harus dibebaskan sebanyak 25 bidang atau warga telah setuju dengan harga yang ditawarkan panitia, sedangkan sisanya 105 bidang menolak.
Alfisyah mengatakan, langkah yang ditempuh warga dengan menggugat ke pengadilan sudah tepat. Pihaknya akan mengikuti apa pun keputusan pengadilan. ”Penilaian dilakukan dengan sangat hati-hati dan teliti jika warga belum sepakat masih ada jalur hukum yang bisa ditempuh,” kata Alfisyah.
Juru Bicara Pemprov Aceh Wiratmadinata mengatakan, pemerintah telah memfasilitasi penyelesaian polemik penentuan harga lahan antara warga dan panitia. Banyak warga yang setuju dengan harga dari panitia.
”Soal ganti rugi yang dianggap murah, kami kira itu subyektif karena perhitungan harga itu memiliki rumus dan teknik sendiri menurut perundang-undangan. Menurut Pemprov Aceh, harga sudah proporsional,” katanya.